Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2017-09-01 | Waktu : 15:47:21
Keimanan dan Semangat Rela Berkorban Menuju Prajurit Ideal oleh Rektor UIN SU

Medan, 01 September 2017. Rektor UIN SU hadir sebagai Imam dan Khatib pada hari Raya Idul Adha 1438 H yang dihadiri oleh para pimpinan dan ribuan anggota KODAM BB I Sumatera Utara. Rektor UIN SU Prof. Dr. H. Saidurrahman , M.Ag menyampaikan dalam ceramah nya dengan tema "Meningkatkan Keimanan dan Jiwa Rela Berkorban Menuju Prajurit Ideal. Berikut ini isi ceramah lengkap Rektor UIN SU Prof. Dr. H. Saidurrahman, M.Ag :

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Allahuakbar3x Walillahilham

Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada 

Allah Swt. pagi hari ini kita dapat berkumpul ditempat yang berbahagia sembari mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, mengagungkan Ilahi Rabbi dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha dan khutbah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah yang maha besar.
Shaawat dan salam kita persembahkan kepada baginda Rasulullah Saw. Nabi Muhammad Saw. suri tauladan dalam kehidupan. Semoga kita dapat mengikuti uswatun hasanah yang telah beliau contohkan.
Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kepada Allah swt dengan sepenuh jiwa raga. Kita niatkan hari ini sebagai langkah taqwa dalam perjalanan diri mengarungi kehidupan sebagaimana keta’atan yang dicontohkan Nabi Ibrahim As, ketabahan dan kesabaran yang dicontohkan Nabi Ismail dan Siti Hajar dalam menjalani cobaan demi cobaan dalam kehidupan sehingga menjadi contoh keluarga bagi umat sepanjang masa. Allah Swt. berfirman, Nabi Ibrahim As dan keluarga adalah contoh tauladan umat manusia.

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Allahuakbar3x Walillahilham
Pada kesempatan khutbah hari ini, saya mengajak kita semua untuk mengembalikan ingatan kita kepada seorang Nabi peletak keimanan, yakni Nabi Ibrahim As. Keimanan adalah sesuatu yang maha penting dalam jagad raya kehidupan. Iman bak mahligai yang tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan apapun. Berdasar iman manusia dapat melakukan tugas kehambaannya secara benar. Atas dasar iman itulah manusia menjadi sukses dan bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Atas dasar iman itulah Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi orang sukses menjadi hamba Allah dan menjadi contoh bagi seluruh umat manusia. Atas dasar iman itulah manusia mampu menghadapi cobaan dan tantangan dalam menjalani kehidupan.  

Dalam ajaran tauhid, iman kepada Allah harus menjadi landasan setiap gerak dan langkah dalam aktivitas kehidupan. Dengan kata lain, bahwa semua perbuatan dan aktivitas apapun, dari hal-hal yang kecil hingga aktivitas yang penting harus karena Allah dan hanya karena perintah Allah Swt.  
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.

Mari semenjak kita melihat sejarah Nabi Ibrahim As. dan keluarganya dalam melakoni perjuangan hidup berdasarkan iman kepada Allah Swt. Dalam sejarah disebutkan, di sebuah tempat yang gersang dan tandus yang disebut Bakkah (Makkah) dan tidak ada apapun selain tanah bebatuan, ditambah dengan udara yang panas menyengat, Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail. Ketika Nabi Ibrahim hendak bergegas pergi, Siti Hajar memegang erat tali kekang kenderaannya, seraya bertaya, apakah engkau tinggalkan kami berdua di lembah tandus ini wahai suamiku? Sungguh, secara manusiawi, Ibrahim tak kuasa menjawab pertanyaan istri yang tercinta, hatinya risau, gundah gulana, menangis, bergoncang sebab tak kuasa untuk meninggalkan istri dan anak yang masih bayi. Siti Hajar kembali bertanya, kepada siapa kami ditinggalkan di sini? Nabi Ibrahim pun masih tidak bisa menjawab, tenggorokannya kering, kedua bibirnya seakan terkatup rapat, air matanya tak tertahan meleleh di pipi. Untuk menegarkan perasaannya, sesekali Nabi Ibrahim menatap ke atas langit sambil menahan perasaan yang mendalam. Namun, saat Siti Hajar menanyakan, apakah ini perintah Allah? Nabi Ibrahim hanya menjawab pertanyaan istrinya dengan anggukan kepala. Isyarat dan dari jawabanya itulah yang melegakan Siti Hajar dan menyambutnya dengan penuh keimanan dan kebesaran hati. Bagi Siti Hajar jika ini adalah perintah Allah, maka Allah yang maha penyayang tidak akan menyia-nyiakan orang yang taat kepadaNya.
Demikianlah, iman atas perintah Allah telah menjadikan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tidak hanya siap menghadapi segala tantangan dan rintangan dalam hidup namun juga optimis dalam menghadapi tantangan yang sangat berat. Kondisi Mekkah yang gersang dan tandus, tanpa ada tanda-tanda kehidupan dipandang oleh Nabi Ibrahim secara optimis dan alhasil di tempat itulah peradaban manusia bersinar hingga saat ini. 
Dalam kehidupan, apapun profesi seseorang, kapanpun, dimanapun, maka imanlah yang menjadikan manusia untuk siap dengan segala tantangan kehidupan seberat apapun itu. Dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini, berbagai tantangan dan hambatan datang silih berganti. Potensi dan upaya merongrong keberadaan bangsa dan negara selalu saja ada. Apalagi, akhir-akhir ini tantangan terhadap TNI tidaklah ringan, upaya untuk merongrong keutuhan bangsa datang dari segala arah. Tantangan itu tidak hanya datang dari lokal namun juga bersifat trans-nasional yang mengharuskan setiap prajurit mewaspadainya. 
Untuk itulah, segenap bangsa Indonesia termasuk TNI harus mempunyai landasan yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Landasan yang paling penting dipatrikan adalah landasan iman yang kuat bagi setiap prajurit. Sebab, kekuatan yang dilandasi oleh iman akan membuat kekuatan lahir dan batin. Kekuatan yang bersifat lahiriah berupa fisik yang kuat, raga yang kekar, dan peralatan yang lengkap tidak akan bernilai banyak tanpa kekuatan batin yang dimiliki oleh setiap prajurit TNI. Kekuatan batin akan membuat setiap prajurit mempunyai sikap mentah yang teguh, konsiten dalam menjaga setiap jengkal bumi pertiwi.

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Allahuakbar3x Walillahilhamd
Hikmah yang terbesar dari momentum Idul Adha adalah semangat rela berkorban.  Idul Adha sebagaimana juga nama lainnya adalah Idul Qurban adalah peristiwa pengorbanan agung yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s, Siti Hajar dan anaknya Nabi Ismail As. Untuk menjalankan perintah Allah. 
Pengorbanan Nabi Ibrahim adalah sebagai ayah yang rela berkorban dengan siap untuk menyembelih anaknya Ismail yang telah lama dirindukannya. Anak yang baru diperolehnya saat telah tua, anak yang sedang lucu-lucunya yakni saat beranjak remaja, anak menjadi harapan masa depan, pelanjut cerita, disaat itupula perintah Allah datang agar mengorbankan dengan cara menyembelihnya sendiri. Nabi Ibrahim harus siap berkorban dengan cara melawan melawan nafsu demi mencari ridla Allah. Akhirnya, Nabi Ibrahim berhasil dengan melaksanakan qurban. Hal ini terekam dalam AL-Quran Surah Al-Shaffat: 102

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Pengorbanan Siti Hajar sebagai ibu dilakoni dengan harus menyambung nyawa ketika hamil dan melahirkan anaknya serta mengasuh dan membesarkan anaknya dengan segala kesusahannya. Dengan iman dan kesabaran yang mantap merelakan anaknya untuk diqurbankan demi pengabdian diri kepada Allah.
Pengorbanan Ismail AS, sebagai anak muda yang sholeh dengan sabar menyerahkan dirinya untuk diqurbankan demi beribadah kepada Allah dan berbakti kepada kedua ibu bapaknya dengan kerelaan hatinya, leherpun diserahkan untuk disembelih. Sebuah pengorbanan yang tiada tara. Peristiwa ini terekam dalam Al-Quran Surat Al-Shafffat Ayat: 102.

Artinya: Ismail menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Sikap pengorbanan inilah yang harus dijadikan contoh dalam kehidupan baik kehidupan pribadi, masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap pengorbananlah yang telah menjadikan negara ini merdeka. Para pejuang kemerdekaan telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk memerdekakan bangsa ini. Ribuan jiwa harus melayang demi kemerdekaan. Panglima besar Jenderal Sudirman harus rela untuk berjuang bergerilya walau hanya bernafas dengan satu paru-paru.
Dalam konteks saat ini, jika pengorbanan itu harus diwujudkan dengan semangat untuk membangun bangsa secara bermartabat. Segenap komponen bangsa harus memiliki jiwa rela berkorban untuk tidak melakukan perbuatan yang tercela seperti korupsi, kolusi dan nepotisime (KKN) yang menjadi penyakit kronis yang saat ini melanda negeri ini. Sikap rela untuk hidup sederhana adalah salah sikap yang terpuji yang patut dipupuk oleh bangsa ini. Sebab, keserakahan, cara hidup yang berlebihan, materialisme, hedonismelah yang menyebabkan banyak orang melakukan KKN sehingga menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Perjuangan untuk menegakkan NKRI ke depan jelas memerlukan pengorbanan kita semua. Tidak Perjuangan Tanpa Pengorbanan.  
Pengorbanan Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar dan Nabi Ismail, tidak terjadi demikian saja tanpa ada tantangan dan rintangan. Ketika mereka akan melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan anaknya itu, mereka digoda oleh Iblis. Syaithan-syaithan menggoda mereka agar tidak melaksanakan perintah Allah, keluarga mulia itu tidak mudah digoda dan dihalangi. Mereka menentang, melawan godaan, mereka melempar syaithan-syaithan itu dengan batu-batu, itulah yang dinapaktilasi oleh umat Islam yang sedang berhaji di Mina sekarang ini dengan melempar jumrah.
Hal ini mengandung hikmah bahwa dalam setiap melakukan kebaikan pasti terdapat godaan dan tantangan. Demikian pula bagi perjalanan bangsa ini, terdapat tantangan dan rintangan yang sangat berat dan beragam. Apalagi pada abad globalisasi sekarang ini, rintangan dan tantangannya semakin berat dan harus dihadapi dan diatasi.
   Secara umum tantangan bangsa berasal dari eksternal dan dari internal. Dari eksternal fenomena global masih mengetengahkan beberapa tantangan dari mulai isu lingkungan hidup dan dampak pemanasan global, keamanan global menempatkan terorisme menjadi ancaman terbesar. Penggunaan kekuatan militer oleh suatu negara ke wilayah negara lain mengancam kedaulatan dan kehormatan suatu negara berdaulat serta tantangan-tantangan lainnya.
Secara internal, dalam menjaga dan mengawal NKRI agar tetap utuh dan bersatu tantangan kedaulatan masih berpotensi terutama yang berbentuk konflik antar dan internal agama, potensi gangguan keamanan maritime dan dirgantara, gangguan keamanan di wilayah perbatasan berupa pelintas batas secara illegal dan masih banyak lagi.
Tantangan-tantangan harus diatasi dengan sikap yang kokoh menjaga kedaulatan bangsa. Sikap yang kokoh dapat dipelihara dengan keberimanan yang kuat dan kokoh pula. Sebab dengan keimanan yang kuat dan kokohpersoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan. Allah Swt. memberikan garansi bahwa dengan keimanan dan ketaqwaan akan diberikan Allah jalan keluar dan solusi atas berbagi persoalan.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Allahuakbar3 X Walillahilhamd
Jama’ah Shalat Id Rohimakumullah
Dalam rangka mengadapi berbagai tantangan dan cobaan, maka sikap rela berkorban sebagai manifestasi perintah Allah. Sikap pengorbananlah yang membuat sebuah bangsa menjadi besar. Dengan sikap pengorbanan yang besar maka akan berdiri bangsa yang besar. Pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi keluarga ini menjadi keluarga yang menjadi contoh sepanjang zaman. Dalam konteks Indonesia, pengorbanan para pejuang menjadikan bangsa ini merdeka dan berdaulat hingga hari ini. Dan sikap pengorbanan generasi kita saat inilah yang dapat menjadikan bangsa ini tetap berdiri dan besar pada masa-masa yang akan datang.
Allah Swt. memberikan garansi atas pengorbanan seseorang dengan balasan yang lebih besar.  Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya yang rela berkorban ditebus Allah dengan seekor sembelihan yang besar. Allah Swt. berfirman: 
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Jiwa keimanan dan rela berkorban inilah yang perlu direvitalisasi untuk menjadi prajurit yang kuat. Jiwa pengorbanan adalah ukuran prajurit yang tidak hanya kuat dan hebat tetapi prajurit yang profesional dan dicintai rakyat. Sikap pengorbanan dengan saling memberi melalui ibadah kurban misalnya akan menjadikan kita dekat dengan masyarakat luas. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berkorban dan berjuang sesuai dengan bidang dan status kita masing-masing dengan dasar karena Allah, sehingga apa yang kita kerjakan bernilai ibadah.
Karenanya, dalam momentum khutbah kali ini, marilah kita sama-sama bertekad untuk berjuang dan berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan yang menghidupkan dan mematikan kita semua. Berkurban demi kebaikan umat manusia, berkorban untuk keselamatan bangsa dan negara. Perjuangan pasti menuntut pengorbanan. Tak sempurna iman dan ketaqwaan tanpa perjuangan, tak ada perjuangan tanpa pengorbanan.

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Sidang Shalat Id Rohimakumullah.
Terahir, salah satu pelaksanaan idul adha adalah menyembelih hewan qurban sehingga idul adha selalu juga disebut dengan idul qurban. Qurban berarti menghampiri atau dekat. Sesungguhnya kehidupan harus berhakikat sebagai mendekatkan diri secara terus menerus kepada Allah. Agama memang menuntut kita untuk ikhlas mengorbankan kesenangan pribadi untuk kepentingan orang banyak. Itulah jiwa atau semangat kita sebagai seorang yang beriman. Ketulusan berbuat dan berkorban itulah yang ditunjukkan oleh nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semangat taqwa diwujudkan dengan semangat juang dan perngorbanan untuk membentuk pribadi yang kuat, tangguh, profesional dan dekat dengan masyarakat.