Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2017-09-04 | Waktu : 21:46:22
Sejarah Baru UIN SU Sembelih 35 Ekor Hewan Qurban Terbanyak

Medan , 04 September 2017. UIN SU melaksanakan penyembelihan kurban gema takbir dan tahlil berkumandang di kampus I UIN SU Jl. IAIN No. 1, sebagai iringan doa dalam pelaksanaan ibadah kurban yang dilaksanakan oleh segenap civitas akademika UIN SU. Pada tahun ini, UIN SU menyembelih 35 ekor sapi, penyembelihan ini menambah sejarah bagi UIN SU dengan penyembelihan hewan kurban terbanyak sepanjang sejarah UIN SU berdiri. Dari 35 ekor ini terdiri dari 32 ekor sapi yang berasal dari ASN UIN SU, 2 ekor sapi sumbangan Ketua Dewan Penyantun dan 1 ekor sapi sumbangan dari Bank Syariah Mandiri sebagai mitra UIN SU. Dengan pelaksanaan ibadah kurban, diharapkan seluruh civitas akademika UIN SU dapat mengambil i'tibar dari perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menjalankan perintah Allah. Pengorbanan Nabi Ibrahim adalah sebagai ayah yang kerelaan berkorban dengan menyembelih anaknya Ismail yang telah lama dirindukannya. Anak yang baru diperolehnya saat telah tua, anak yang sedang lucu-lucunya yakni saat beranjak remaja, anak menjadi harapan masa depan pelanjut cerita, disaat itupula perintah Allah datang agar mengorbankan dengan cara menyembelihnya sendiri. Nabi Ibrahim harus siap berkorban dengan cara melawan melawan nafsu demi mencari ridla Allah. Akhirnya, Nabi Ibrahim berhasil dengan melaksanakan qurban. Pengorbanan Siti Hajar sebagai ibu dilakoni dengan harus menyambung nyawa ketika hamil dan melahirkan anaknya serta mengasuh dan membesarkan anaknya dengan segala kesusahannya. Dengan iman dan kesabaran yang mantap ia merelakan anaknya untuk diqurbankan demi pengabdian diri kepada Allah.
Pengorbanan Ismail AS, sebagai anak muda yang sholeh adalah kerelaannya dengan sabar menyerahkan dirinya untuk diqurbankan demi beribadah kepada Allah dan berbakti kepada kedua ibu bapaknya. Ismail menyerahkan lehernya untuk disembelih. Sebuah pengorbanan yang tiada tara. Sikap pengorbanan inilah yang harus dijadikan contoh dalam kehidupan baik kehidupan pribadi, masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap pengorbananlah yang telah menjadikan negara ini merdeka. Para pejuang kemerdekaan telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk memerdekakan bangsa ini. Ribuan jiwa harus melayang demi kemerdekaan. Panglima besar Jenderal Sudirman harus rela untuk berjuang bergerilya walau hanya bernafas dengan satu paru-paru.
Dalam konteks saat ini, jika pengorbanan itu harus diwujudkan dengan semangat untuk membangun bangsa secara bermartabat. Segenap komponen bangsa harus memiliki jiwa rela berkorban untuk tidak melakukan perbuatan yang tercela seperti korupsi, kolusi dan nepotisime (KKN) yang menjadi penyakit kronis yang saat ini melanda negeri ini. Sikap rela untuk hidup sederhana adalah salah sikap yang terpuji yang patut dipupuk oleh segenap bangsa ini. Sebab, keserakahan, cara hidup yang berlebihan, materialisme, hedonismelah yang menyebabkan banyak orang melakukan KKN sehingga menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Perjuangan untuk menegakkan NKRI ke depan jelas memerlukan pengorbanan kita semua.
Namun, yang penting diingat adalah bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar dan Nabi Ismail, tidak terjadi demikian saja tanpa ada tantangan dan rintangan serta godaan. Ketika mereka akan melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan anaknya, mereka digoda oleh Syaitan. Keluarga mulia itu tidak mudah digoda dan dihalangi, mereka menentang, melawan godaan, mereka melempar syaithan-syaithan itu dengan batu-batu, itulah yang dinapaktilasi oleh umat Islam yang sedang berhaji di Mina sekarang ini dengan melempar ibadah jumrah.
Hal ini mengandung hikmah bahwa dalam setiap melakukan kebaikan pasti terdapat godaan dan tantangan. Demikian pula bagi perjalanan bangsa ini, terdapat tantangan dan rintangan yang sangat berat dan beragam. Apalagi pada abad globalisasi sekarang ini, rintangan dan tantangannya semakin berat dan muncul dalam berbagai dimensi dan varian yang beragam.
Secara umum tantangan bangsa berasal dari eksternal dan dari internal. Dari eksternal fenomena global masih mengetengahkan beberapa tantangan keamanan global menempatkan terorisme menjadi ancaman terbesar. Demikian juga tantangan penggunaan kekuatan militer oleh suatu negara ke wilayah negara lain mengancam kedaulatan dan kehormatan suatu negara berdaulat serta tantangan-tantangan lainnya.
Secara internal, dalam menjaga dan mengawal NKRI agar tetap utuh dan bersatu tantangan kedaulatan masih berpotensi terutama yang berbentuk konflik antar dan internal agama, potensi gangguan keamanan maritim dan dirgantara, gangguan keamanan di wilayah perbatasan berupa pelintas batas secara illegal dan masih banyak lagi.
Tantangan-tantangan harus diatasi dengan sikap yang kokoh menjaga kedaulatan bangsa. Sikap yang kokoh dapat dipelihara dengan keberimanan yang kuat dan kokoh pula. Sebab dengan keimanan yang kuat dan kokoh persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan. Allah SWT. memberikan garansi bahwa dengan keimanan dan ketaqwaan akan diberikan Allah jalan keluar dan solusi atas berbagi persoalan.
Dalam rangka mengadapi berbagai tantangan dan cobaan, maka dibutuhkan sikap rela berkorban sebagai manifestasi perintah Allah. Sikap pengorbananlah yang membuat sebuah bangsa menjadi besar. Dengan sikap pengorbanan yang besar maka akan berdiri bangsa yang besar. Pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadikan keluarga ini keluarga ideal yang menjadi contoh sepanjang zaman. Dalam konteks Indonesia, pengorbanan para pejuang menjadikan bangsa ini merdeka dan berdaulat hingga hari ini. Dan pengorbanan generasi kita saat inilah yang dapat menjadikan bangsa ini tetap berdiri dan besar pada masa-masa yang akan datang.Allah Swt. memberikan garansi atas pengorbanan seseorang dengan balasan yang lebih besar. Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya yang rela berkorban ditebus Allah dengan seekor sembelihan yang besar. Jiwa keimanan dan rela berkorban inilah yang perlu direvitalisasi untuk menjadi prajurit yang kuat. Jiwa pengorbanan adalah ukuran prajurit yang tidak hanya kuat dan hebat tetapi prajurit yang profesional dan dicintai rakyat. Sikap pengorbanan dengan saling memberi melalui ibadah kurban misalnya akan menjadikan kita dekat dengan masyarakat. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berkorban dan berjuang sesuai dengan bidang dan status kita masing-masing dengan dasar karena Allah, sehingga apa yang kita kerjakan bernilai ibadah. Hal inilah yang seharusnya kita contoh demi untuk terwujudnya UIN SU yang lebih JUARA