Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2018-09-27 | Waktu : 09:33:39
Menag Membuka ICIS 2018

Palu (UIN SU)

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin membuka secara resmi kegiatan The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 di Ballroom Mercure Hotel, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (18/09/18).

Mengusung tema " Islam in Southeast Asia and the Global World Text, Knowledge and Paractice" sebanyak 1.700 sarjana studi Islam dari seluruh dunia hadir dalam acara AICIS 2018 ini untuk membicarakan adanya gap antara teks-teks Islam dengan praktek di lapangan.

Menteri Agama RI dalam sambutannya mengatakan selama kegiatan AICIS ini, akan disuguhkan paparan dan diskusi makalah-makalah hasil riset multidisiplin yang sangat berkelas dari para sarjana dan peneliti dari dalam dan luar negeri . "Posisi Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya adalah sebagai salah satu kawah candradimuka kajian Islam di dunia. Mengapa saya sebut "kawah candradimuka"? karena dalam konteks kajian Islam, Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya, sesungguhnya telah menjadi tempat menempa dan menghasilkan para sarjana dan peneliti terkemuka dunia. Mereka mampu melakukan penelitian berdasar pada ragam "bahan baku" unggulan berkualitas tinggi yang tersedia, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan global", papat Menteri Agama. 

Lebih lanjut Menteri Agama menyampaikan  "bahan baku" kajian Islam yang dimaksud bisa berupa kekayaan teks-teks keislaman yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lokal, hasil karya dan terjemahan para cerdik cendekia Muslim Nusantara, maupun berupa peristiwa, perilaku dan interaksi masnyarakatnya yang multikultural.

Selain Menteri Agama,bertindak sebagai Keynote speaker adalah Dominik Muller Ph.D dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman, yang merupakan pakar antropologi agama yang penelitiannya berbasis Asia Tenggara. Hadir juga pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Hans Christian Gunther dari Albert Ludwig University, Freiburg, Jerman, Dr. Hew Wai Weng dari University Kebangsaan Malaysia, dan Dr. Ken Miichi dari Waseda University Jepang.

Menteri Agama merasa sangat senang bahwa dalam kegiatan AICIS ke-18 yang dilaksanakan di IAIN Palu ini, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dr. Phil, Kamaruddin Amin, melalui para anggota Steering Committee-nya telah mendiskusikan, merumuskan serta memilih tema yang menggambarkan lintas disiplin ilmu. Karena itu, ia menyampaikan tiga harapan atas terselenggaranya hajatan AICIS ini.

"Pertama, saya sangat memnginginkan agar hasil-hasil diskusi selama pergelaran AICIS ini dapat memberikan manfaat bagi penguatan program-program di lingkungan Kementerian Agama sendiri. Saya sering tegaskan kepada para pimpinan kampus bahwa tranformasi tersebut hendaknya tidak semata dipahami sebagai peningkatan anggaran atau penambahan jumlah prodi belaka. Tapi lebih dari itu adalah 'hijrah' perguruan tinggi Islam, dari penekanan awal sebagai lembaga dakwah ilmu-ilmu agama, menjadi institusi yang memiliki tradisi riset yang baik, menjadi kampus yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan sains dan teknologi, serta menjadi rumah yang nyaman bagi dosen dan peneliti untuk menghasilkan temuan-temuan berkualitas, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengetahuan dan keilmuan global. Dalam Forum AICIS ini hendaknya para dosen dan peneliti perguruan tinggi Islam juga membuktikan bahwa kita bukan peneliti jago kandang, peneliti kita bukan sekedar untuk memenuhi kuota hibah riset dari Kementerian Agama belaka. Kita perlu tunjukkan bahwa buku kita juga bisa diterbitkan oleh Penerbit terkemuka di luar negeri, dan artikel yang kita tulis pun tidak sekedar tersimpan di rak-rak pribadi, melainkan terbit juga di jurnal-jurnal bereputasi nasional dan internasional.

Kedua, dalam konteks kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia khususnya, saya berharap bahwa diskusi para narasumber dan peserta selama tiga hari ke depan juga membincang sejauh mana kita bisa merespon serta memberikan solusi atas persoalan-persolan sosial keagamaan yang belakangan mengganggu kerukunan umat beragama.

Kita tidak boleh menjadi menara gading yang terlalu asyik ma'syuk dengan penelitian atau diskusi yang hanya bermanfaat buat pribadi atau kampus kita sendiri saja, tanpa memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial, politik, keagamaan dan kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia secara keseluruhan.

Ketiga, harapan saya adalah agar selama konferensi ini berlangsung, para narasumber dan peserta juga dapat bersama-sama memikirkan kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk perdamaian dunia.

Seperti kita pahami bersama bahwa era keterbukaan global saat ini telah melahirkan tantangan-tantangan perubahan tersendiri dikalangan masyarakat muslim, tak terkecuali di Indonesia dan Asia Tenggara. Menguatnya politik identitas, menularnya gagasan populisme dari belahan bumi lain, bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih konservatif, ditambah dengan kepentingan-kepentingan politik yang menunggangi adalah beberapa contoh dinamika masyarakat yang dalam level tertentu telah mengakibatkan terciptanya segresi sosial.

Dengan berbagai kearifan yang kita miliki, kita wajib merespon tantangan-tantangan semacam itu", katanya.

Diakhir sambutannya Menteria Agama menitip pesan kepada para sarjana dan peneliti Indonesia khususnya dan para partisipan Kongres pada umumnya untuk terus memupuk kepercayaan diri yang tinggi dan bersama-sama mempromosikan serta menjadikan Islam Wasathiyah sebagai harapan akan masa depan peradaban dunia.

"Mari kita bangun rasa percaya diri untuk memnunjukkan kemampuan kita hidup damai dan berdampingan bersama dalam merawat keragaman praktik keberagaman di tengah keragaman suku, budaya dan agama", tegas Menteri Agama disambut tepuk tangan meriah dari ribuan hadirin. (YS Humas)