Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2019-03-26 | Waktu : 08:50:02
DIALOG KEBANGSAAN GERAKAN SULUH INDONESIA "MAHFUD MD : MAHASISWA UIN SU PILIH PEMIMPIN NASIONALISME"

Medan (UIN SU)
Ketua Umum Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD meminta agar seluruh masyarakat termasuk mahasiswa untuk memilih pemimpin yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Hal ini menurutnya menjadi bagian penting karena kedaulatan bangsa Indonesia menjadi pertaruhannya.
Demikian disampaikannya saat membuka Dialog Kebangsaan Merawat Kebhinekaan di Aula Kampus Universitas Islam Negeri  Sumatera Utara (UIN-SU).


"Saya datang untuk berkampanye tapi kampanye kebangsaan agar kita sadar bahwa kita punya potensi besar menjadi bangsa maju dan jangan dirusak oleh perbuatan kita sendiri," katanya.
Mahfud menjelaskan, momen pemilu 2019 menjadi ajang bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menentukan nasib negara. Karenanya ia mengajak agar seluruh masyarakat menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin yang terbaik.

"Siapa yang terbaik, anda sendiri yang bisa menentukan. Kami disini tidak untuk mengkampanyekan memilih salah satu pasangan calon, tapi kami hanya mengkampanyekan agar mari kita jaga bangsa ini," ujarnya. 
Mahfud MD menilai saat ini masih ada ketidakadilan di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya penduduk miskin. "Ada 11 juta atau 8 % penduduk miskin di Indonesia. Itu pertanda sebuah ketidakadilan," ujarnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu tidak menyebut data penduduk miskin mana yang dipakainya. Di sisi lain, ia mengatakan, ketidakadilan dapat dilihat dari belum tegaknya hukum di Indonesia. Di mana, orang besar masih mendapatkan kenyamanan, sedangkan orang kecil tidak demikian.
"Kalau mau menyelamatkan negara ini, tegakkan hukum. Penduduk miskin tanda ketidakadilan, untuk mengubah itu ada yang namanya pemilu, itu jalannya," tegasnya.
Mahfud MD juga menilai gerakan yang dipimpinnya muncul karena adanya kekhawatiran tentang gerakan yang ingin memecah ideologi bangsa. Bahkan, dia menyebut gerakan tersebut makin gencar jelang pelaksanaan pemilu.
"Secara keseluruhan setelah berkeliling, saya melihat masyarakat cinta tanah air. Tapi, ada gerakan yang ingin memecah ideologi. Ada yang mau mengubah sistem di luar konstitusional. Gerakan itu meningkat jelang pemilu," ujarnya.
Gerakan Suluh Kebangsaan, lanjut dia, ingin meredam gerakan tersebut dan meredam tensi yang semakin tinggi jelang pemilu.
"Setelah pemilu jangan lagi ribut, kalau ada yang mengatakan curang silahkan nanti diuji di MK," jelasnya.

Sedangkan Sekretaris Gerakan Suluh Kebangsaan, Alissa Wahid, mengingatkan, setelah 17 April 2019 atau hari pemungutan suara, bukanlah hari kiamat.
"Jangan terus berfikir kalau calon presiden yang dipilih kalah, negara ini kiamat. Semua tetap warga negara indonesia, tetap bisa mengkritik dan menagih janji politik calon yang menang. Jadi Indonesia itu kabar baik, demokrasinya lancar, hubungan dengan rakyatnya baik saja," jelasnya.
Sementara Rektor UIN-SU Prof Dr Saidurrahman M.Ag menambahkan, NKRI adalah final karena jauh sebelum negara ini ada, para ulama telah menyepakati bahwa bangsa ini berbentuk negara kesatuan. Jadi konteks keragaman dalam beragama mengandung makna beragam-ragam dan berbeda-beda tetapi hidup bertaaruf dan saling bekerjasama membangun bangsa ini kearah yang lebih baik.

Karenanya, UIN-SU yang merupakan kumpulan orang cerdas, pintar dan kaum muslimin tapi tidak akan radikalis apalagi teroris. "Sebab mahasiswa UIN-SU harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, ahli sunnah wal jamaah. Sebagai anak negeri mahasiswa UIN-SU berkontribusi memajukan bangsa ini tergantung dari alumni sendiri," katanya.