Sholawat dan Deradikalisasi: Racikan Unik Dari UIN SU Medan

Sholawat dan Deradikalisasi: Racikan Unik Dari UIN SU Medan

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” (Soekarno- Presiden I RI)

Rabu ini, tanggal 26 November 2019 merupakan momentum istimewa bagi civitas UINSU dan masyarakat Sumatera Utara pada umumnya. Pasalnya, ada dua acara akbar yang digelar di kampus kebanggaan Sumatera ini.

Pertama, Pemecahan rekor MURI berupa Penulisan dan Pembacaan Sejuta plus Shalawat oleh mahasiswa UINSU Medan dan kedua Seminar Nasional Deradikalisasi dan Moderasi Beragama yang menghadirkan pembicara kaliber nasional seperti Menko Polhukam Prof. M. Mahfud MD, Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi dan Musa Rajeksah.

Selain itu, turut menjadi pembicara adalah, Ketua Lemhanas Letjen (Purn)) Agus Widjojo, Ketua Dewan Pengarah Badan Penguatan Ideologi Pancasila, Romo Beni Susatyo, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, Ketua Dewan Penasehat Forum Pusat Kajian Deradikalisasi UINSU, TGB Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk dan tentunya Rektor Muda UINSU Medan, Prof. KH. TGS. Saidurrahman, M.Ag yang terkenal dengan gebrakan out of box-nya.

Ide kegiatan ini menarik. Memadukan shalawat dan seminar sekaligus. Pak Rektor, sebagaimana dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini meneguhkan UINSU siap menjadi kampus terdepan dalam mengusung deradikalisasi dan moderasi beragama.

Keduanya pantas menjadi barometer bagaimana sebuah perguruan tinggi menempatkan dirinya sebagai instusi pendidikan sekaligus perawat keberagaman di negeri ini. Saya menyebut ini adalah racikan unik ala UINSU Medan dalam merawat keragaman Indonesia, membungkusnya dengan nilai keislaman dan Pancasila dalam bingkai NKRI yang kuat. Great…!!

Sebagaimana diketahui, shalawat adalah bentuk pujian dan sanjungan seorang muslim kepada Rasulullah SAW. Banyak bentuk shalawat yang disanjungkan seorang muslim. Shalawat juga menjadi trend anak muda millennial khususnya di Indonesia sejak booming-nya beberapa video Youtube bertema shalawat seperti Nisa Sabyan dengan gambusnya itu.

Nah, ternyata shalawat -sebagaimana yang dikemukakan oleh Mahfud MD ketika menjadi keynote speaker- bukan hanya bentuk kecintaan seorang muslim kepada Rasul, yang enak didendangkan dan syahdu, namun juga memiliki pesan mendalam dalam setiap bait-baitnya.

Pesan ini berisi kecintaan seorang muslim kepada perdamaian, persatuan dan semangat juang yang tinggi. Mahfud mencontohkan Shalawat Tarahim yang dibaca setiap hari sebelum azan subuh berkumandang. Menteri ini bahkan mencontohkannya dengan irama yang menyentuh kalbu.

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ

Artinya:
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah

Mahfud dalam orasi menegaskan bahwa kata salam di dalam shalawat ini berarti perdamaian. Sehingga, tidak mungkin seorang muslim yang menyanjungkan shalawat kepada Rasul akan berprilaku dan bertindak anti perdamaian, radikalis atau intoleran. Hal ini dibuktikan ketika Rasulullah begitu menghargai keragaman atau pluralitas masyarakat Madinah saat itu dimana warga Yahudi dan Nasrani bisa hidup dengan damai.

Sebelum paparannya, Tuan Guru Batak, Sabban Rajagukguk memberikan sambutan dan penekanan bahwa kegiatan seminar deradikalisasi ini dilakukan untuk menguatkan pemahaman bahwa tidak boleh ada anggapan bahwa jika seseorang berupaya meningkatkan kesholehan maka berkurang kecintaannya terhadap negara.

Ketua Lemhanas dan Romo Beni Susatyo juga sepakat menyatakan bahwa, sikap radikal juga bisa dimiliki oleh setiap penganut agama apapun. Untuk itu mereka menawarkan sebuah sikap kritis, dan peningkatan literasi setiap pemeluk agama sehingga setiap individu memiliki kekuatan diri dalam menghempang berbagai informasi yang tidak benar terkait keragaman itu.

Sesi seminar kemudian dilanjutkan dengan pemecahan rekor Muri yaitu Pembacaan dan Penulisan Shalawat Sejuta Plus yang dilakukan oleh mahasiswa UINSU Medan. Dan, kali ini Mahfud MD mendapat kesempatan menjadi pembaca shalawat penutup dari rangkaian shalawat yang telah dilakukan mahasiswa sejak beberapa hari yang lalu.

Saya melihat, bahwa kegiatan ini tentu menjadi sebuah kado unik dari UINSU Medan untuk masyarakat Indonesia yaitu memadukan semangat shalawat dengan semangat deradikalisasi dan moderasi dalam satu paket yang menarik.

Tentu saja, kegiatan ini bukan sekedar ajang simbolis semata. Jauh dari itu, UINSU seperti yang disampaikan Rektor di dalam berbagai kesempatan- ingin menegaskan dirinya sebagai institusi terdepan dalam hal deradikalisasi dan moderasi beragama yang sering mendapat ujian dan tantangan di tengah masyarakat majemuk dan serba digital saat ini.

Dari pantauan di lapangan, mahasiswa yang mengikuti acara ini terlihat antusias. Generasi millennial yang mendapatkan kesempatan langka ini tentu tak menyangka bahwa acara ini akan bisa menjadi catatan emas dalam perjalanan akademis mereka kelak. Ini benar-benar sesuatu banget, membanggakan dan tentunya bisa menjadi pemantik terciptanya generasi yang cinta perdamaian, toleran dan berwawasan kebangsaan yang kuat.

Saya yakin, siapapun yang hadir dalam kegiatan hari ini pasti mendapatkan sebuah semangat baru dalam memperkuat negeri ini di tengah kemajemukannya. Negeri besar memang selalu dihadapkan pada tantangan besar.

Di akhir sekali, ada sebuah penutup disampaikan oleh Ahmad Basarah dalam sesi presentasinya. Dia mengutip kata-kata Soekarno -Presiden I RI-

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Sebuah ungkapan yang memiliki sarat makna. Siekarno paham bahwa keragaman itu bisa menjadi aral dalam membangun negeri sehingga harus diantisipasi.

Jayalah Indonesia. Semoga UINSU tetap Juara.
Publik pasti menunggu gebrakan institusi lainnya. Dalam memadukan peran Pendidikan Tinggi Islam dengan isu-isu terkini di masyarakat.

Semoga….

(Oleh: M. Ridwan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN SU Medan)