Tadarus Wahdatul Ulum FKM UIN-SU : Sahur dan Berbuka Dalam Kesehatan, Puasa dan Diet

Tadarus Wahdatul Ulum FKM UIN-SU : Sahur dan Berbuka Dalam Kesehatan, Puasa dan Diet

Medan (UINSU)

Kegiatan tadarus wahdatul ulum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (FKM UIN-SU) yang ke 12 dan ke 13 dilaksanakan pada Selasa (4/05/2021).

Dosen FKM yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Susilawati, S.KM, M.Kes menjadi narasumber pertama pada pertemuan ini dengan mengangkat tema “Berbuka dan Sahur Dalam Kesehatan”. Sementara itu, narasumber kedua Zuhrina Aida, S. Kep., M. Kes mengangakat tema “Puasa dan Diet”.

Susilawati, S.KM, M.Kes menyampaikan bahwa dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda untuk kita makan sahur dipagi hari, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan walau hanya dengan seteguk air.

Dijelakannya, sahur memberikan beberapa manfaat, Pertama, untuk sumber energi. Selama berpuasa tubuh membutuhkan energi untuk beraktivitas selama satu harian. Oleh karena itu, kita membutuhkan cadangan energi.

Kedua, sahur mencegah penyakit. Saat berpuasa maka kita mengatur pola makan untuk tidak mengkonsumsi zat-zat yang kurang baik untuk tubuh, hal ini dapat mencegah beberapa penyakit seperti jantung dan diabetes.

Ketiga, mencegah dehidarsi, sahur sangat penting untuk menjaga kecukupan cairan. Saat berpuasa kesempatan untuk minum terbatas, jadi kita perlu untuk mengatur waktu minum saat sahur dan berbuka.

Keempat, dengan sahur sistem kekebalan tubuh akan membaik sehingga kita terhindar dari penyakit.

Lebih lanjut Susilawati menjelaskan pola makan yang baik dikonsumsi saat sahur. Pertama, saat sahur pilih makanan berserat dan protein agar pencernaaan menjadi lambat, jika pencernaan lambat makan insulin yang dikeluarkan menjadi bertahap.

Kedua, Hindari menu sahur dengan yang manis manis karena dapat menyebabkan insulin dikeluarkan dengan cepat, akibatnya menjadi cepat lapar di siang hari.

Ketiga, disunahkah untuk sahur mendekati imsak agar tubuh mempunyai waktu yang cukup untuk membakar makanan jadi energi dan badan tidak lemas. Untuk berbuka kita disarankan untuk banyak minum air putih dan makan buah-buahan untuk menggantikan energi dengan cepat.

Narasumber kedua Zuhrina Aida, S. Kep., M. Kes menjelaskan bahwa Diet adalah pengaturan pola makan dengan mengurangi unsur tertentu zat makanan. Secara medis diet merupakan perilaku pengaturan asupan makanan yang masuk ketubuh dengan tujuan beraneka macam. Mengapa kita harus diet?

Pertama, untuk mengembalikan atau mempertahankan bentuk tubuh. Pertumbuhan dari remaja menuju dewasa terjadi perubahan hormonal, jika tidak diantisipasi akan terjadi perubahan bentuk tubuh. Kedua, diet sebagai upaya penyembuhan. Kondisi penyakit tertentu disarankan untuk berpuasa agar penyakit bisa sembuh. Dalam sebuah penelitian dijelaskan saat kita dalam kondisi lapar makan tubuh kita akan memakan sel-sel tubuh yang rusak sedangan sel-sel tubuh yang akan akan tetap ada, jadi puasa sangat baik untuk proses penyembuhan,” jelasnya.

“Beberapa metode Diet puasa atau intermitten fasting adalah pertama metode 5:2. Maksudnya lima hari makanan normal, dua hari makan 500 – 600 kalori dengan waktu yang tidak berdekatan contohnya puasa Senin-Kamis.

Kedua. Metode eat stop eat, maksuadnya puasa dalam 24 jam dalam 1 atau 2 kali dalam seminggu. Ketiga, Metode 36/12. Maksudnya Tiga puluh enam jam puasa tanpa kalori, boleh minum-minuman yang tidak mengandung kalor, kemuadian 12 jam boleh makan tanpa batas,” jelas Zuhrina Aida.

Di akhir kegiatan Wakil Dekan II FKM UIN-SU, Dr. Watni Marpaung, MA, mengatakan sangat mengapresiasi para dosen yang menjadi narasumber dalam kegiatan tadarus wahdatul ulum selama ini.

“Karena mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu kesehatan dengan ilmu keislaman yang sangat mendukung konsep wahdatul ulum,” jelasnya. (Humas)