{"id":22354,"date":"2021-04-30T21:54:09","date_gmt":"2021-04-30T14:54:09","guid":{"rendered":"https:\/\/uinsu.ac.id\/?p=22354"},"modified":"2021-04-30T21:54:09","modified_gmt":"2021-04-30T14:54:09","slug":"ramadhan-in-campus-fst-uin-su-wahdatul-ulum-dalam-konteks-fakultas-sains-dan-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/2021\/04\/30\/ramadhan-in-campus-fst-uin-su-wahdatul-ulum-dalam-konteks-fakultas-sains-dan-teknologi\/","title":{"rendered":"Ramadhan in Campus FST UIN SU: Wahdatul Ulum dalam Konteks Fakultas Sains dan Teknologi"},"content":{"rendered":"\n<p>Medan (UIN Sumut) <\/p>\n\n\n<p>Dalam acara Ramadhan in campus yang  digelar FST secara marathon pada tanggal 19 April 2021 dengan tema  Wahdatul Ulum dalam perspektif Sains dan Teknologi menampilkan duo  narasumber Dr. Sahdin Hsb &amp; Dr. Abdul Halim Daulay.<\/p>\n\n\n<p>Dr. Sahdin mengemukakan bahwa dalam  berbagai kesempatan dialog-dialog terbatas sering muncul dari para dosen  di Fakultas Sains dan Teknologi (selanjutnya disebut FST), sering  muncul pertanyaan: mengapa kita harus menggunakan atau mengimplementasi  Wahdatul Ulum sebagai paradigma keilmuan di UIN SU? Pertanyaan ini  muncul bisa dimaklumi karena para dosen FST ini secara umum berasal dari  berbagai &nbsp;perguruan tinggi terkemuka dalam dan &nbsp;luar <em>negeri<\/em>.<\/p>\n\n\n<p>Untuk menjawab pertanyaan di  atas saya dengan mudah saja menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang  berkembang pesat sekarang ini &nbsp;menjadi spesialisasi-spesialisasi yang  \u201clupa diri\u201d berawal dari satu kesatuan (<em>unity<\/em> of <em>knowledge<\/em>)  dan berasal dari&nbsp; Yang Satu yaitu Allah yang Maha Mengetahui (al-Alim).  Dalam perkembangannya ilmu ini ternyata tetap saja tidak mampu menjawab  berbagai problema kemanusiaan,<\/p>\n\n\n<p>Selain itu munculnya dikotomi keilmuan antara ilmu-ilmu agama (<em>science<\/em> <em>of<\/em> <em>relgion<\/em>) atau lebih spesifik ilmu-ilmu agama <em>(Islamic studies}<\/em> dengan ilmu-ilmu umum (<em>natural<\/em> <em>science<\/em>, <em>social<\/em>&nbsp; <em>science<\/em>, <em>humaniora<\/em>)  awalnya hanya sekedar identifikasi dan kategori saja, tetapi kemudian  menjadi problema tersendiri yang justru saling merendahkan dan bahkan  menafikan dalam hal kebenaran. Dalam perspektif Islam ilmu atau sains  juga bersumber dari yang satu yaitu Allah Yang Maha Tahu (al-<em>Alim<\/em>) yang disebut <em>Islamic knowledge <\/em>atau<em> Islamic sains<\/em>)<\/p>\n\n\n<p>Wahdatul Ulum  diinplementasikan &nbsp;diharapkan mampu menjembatani dan mendialogkan  berbagai ilmu pengetahuan yang sudah terspesialisasi dan&nbsp; mengalami  dikotomi agar bersinergi dan berintegrasi dalam memberi jawaban&nbsp;  terhadap berbagai problema kemanusiaan karena pada dasarnya ilmu  pengetahuan berasal dari sumber yang satu yaitu Allah&nbsp; Yang Maha  Mengetahui (<em>al<\/em>&#8211;<em>Alim<\/em>). Allah Yang Maha Tahu,&nbsp; memberi  ilmu pengetahuan kepada siapa yang sungguh-sungguh&nbsp; mencarinya, bagi  siapa saja baik yang mengetahui diri-Nya maupun bagi yang tidak mau tahu  dengan diri-Nya. Ilmu&nbsp; yang datang dari dirinya tidak bertentangan satu  sama lain, jika terjadi pertentangan pasti karena kemampuan manusia  yang belum memahami yang sesungguhnya.<\/p>\n\n\n<p>Tragedi konflik ilmu  pengetahuan dengan&nbsp; agama di Barat sehingga kaum saintis menerima  hukuman memberikan dampak yang luas hingga&nbsp; saat ini. H<strong>ubungan sains<\/strong>&nbsp;dan&nbsp;<strong>agama<\/strong>&nbsp;menurut Ian G Barbour terbagi menjadi empat yaitu&nbsp;<strong>hubungan<\/strong>&nbsp;konflik,  independensi, dialog, dan integrasi yang terjadi&nbsp; harus menjadi  tantangan bagi Wahdatul Ulum, terutama terkait tipologi konflik dan  independensi karena ini tidak sesuai dengan paradigma Wahdatul Ulum.  Sementara terkait tipologi dialog dan integrasi perlu penjelasan&nbsp;  argumentatif bahwa hubungan agama dan sains saling mendukung dan  terintegrasi.<\/p>\n\n\n<p>Sementara dalam tipologi konflik agama  dapat dilihat dari pandangan Auguste Comte &nbsp;yang membagi perkembangan  masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan&nbsp; dan perkembangan yang  lainnya&nbsp; selalu mengikuti hukum&nbsp; alam yang emperis sifatnya, yaitu tahap  teologis, tahap metafisik dan positif. Pada tahap pertama, teologis  bahwa semua gejala&nbsp; dihasilkan dari tindakan&nbsp; langsung dari hal-hal  supranatural. Apapun yang terjadi gejala alam seperti bencana, kesuburan  tanah dan nasib manusia sepenuhnya atas kehendak dan campurtangan dari  Adikodrati, dewa atau Tuhan. Sementara tahap kedua metafisik mulai ada  perubahan bukan kekuatan supranatural yang menentukatetapi kekuatan  abstrak, hal yang nyata melekat pada semua benda. Di sini perlu praktik  magis, diterima atau tidak dilakukan praktis magis, seperti tawar  menawar dengan supranatural, Sementara tahap positif, manusia sudah  memiliki kekuatan ilmu pengetahuan untuk mengendalikan alam dan  kehidupannya. Pada tahap itu agama tidak diperlukan lagi.<\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/uinsu.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Acara_Ramadhan_In_Campus_Season_21.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-22356\" \/><\/figure>\n\n\n<p>Pendapat August Comte ini  jelas bertetangan atau konflik dengan agama Pendapatnya itu sangat  berpengaruh dikalangan ilmuan Barat, dimana ilmu penetahuan dan  teknologi dapat dikembangkan apalbila dilakukan dengan metodologi  agnostik bahkan ataeistik. Tujuan pengembangan sain dan teknologi harus  bebas nilai (<em>scence<\/em> <em>for<\/em> <em>science<\/em>) dan  pemikirannya tersebut tentu tidak sesuai dengan Wahdatul Ulum yang  diimlementasikan di UIN SU Medan. Karena dalam perspektif Wahdatu; Ulum  Tuhan hadir dalam setiap aktivitas termasuk dalam riset dan hukum alam  ditentukan oleh Allah Yang Maha Tahu (al-<em>Alim<\/em>). &nbsp;Dan&nbsp; ilmu  pengetuan dan teknologi dikembangkan harus syarat nilai, yaitu untuk  menuju ridha Allah dan kemaslahatan umat manusia. Kampus IV Tuntungan,  19 April 2021<\/p>\n\n\n<p> Sedangkan narasumber kedua Dr. Abdul  Halim Daulay lebih menitikberatkan paparannya pada tataran bagaimana  mengimplementasikan paradigma WU dalam pembelajaran. Dr. Halim yang juga  merupakan bagian tim taskforce WU UIN-SU menyoroti pentingnya melakukan  pengembangan kurikulum FST yg berorientasi pada (1) penguasaan ilmu  dalam bidang tertentu (Alquran, Alhadits, keilmuan prodi\/fakultas), (2)  wawasan yang luas (multi, inter, dan transdisiplin), (3) kemampuan  konkretisasi ilmu untuk kemajuan bangsa, pengembangan peradaban, dan  kesejahteraan umat manusia.<\/p>\n\n\n<p>Untuk mencapai WU maka dalam kegiatan pembelajaran dosen FST perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut:<\/p>\n\n\n<p>(1) memaksimalkan kemampuan dalam menguasai ilmu di bidangnya;<\/p>\n\n\n<p>(2) menggunakan teknik pembelajaran yang interaktif (diskusi, eksperimen, dan lain-lain);<\/p>\n\n\n<p>(3) melaksanakan perkuliahan tepat waktu dan memanfaatkannya secara penuh;<\/p>\n\n\n<p>(4) perkuliahan\/diskusi bernuansa korelasi antara ilmu yang dipelajari dan ilmu-ilmu bidang lainnya;<\/p>\n\n\n<p>(5) perkuliahan diarahkan untuk menumbuhkan minat dan kemampuan mahasiswa dalam melakukan konkretisasi&nbsp; ilmu;<\/p>\n\n\n<p>(6) membimbing mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai ilmu dalam peningkatan kualitas integritas dan akhlak mahasiswa. (Humas)<\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/uinsu.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Acara_Ramadhan_In_Campus_Season_2_-11.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-22357\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Medan (UIN Sumut) Dalam acara Ramadhan in campus yang digelar FST secara marathon pada tanggal 19 April 2021 dengan tema Wahdatul Ulum dalam perspektif Sains dan Teknologi menampilkan duo narasumber Dr. Sahdin Hsb &amp; Dr. Abdul Halim Daulay. Dr. Sahdin mengemukakan bahwa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22355,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_EventAllDay":false,"_EventTimezone":"","_EventStartDate":"","_EventEndDate":"","_EventStartDateUTC":"","_EventEndDateUTC":"","_EventShowMap":false,"_EventShowMapLink":false,"_EventURL":"","_EventCost":"","_EventCostDescription":"","_EventCurrencySymbol":"","_EventCurrencyCode":"","_EventCurrencyPosition":"","_EventDateTimeSeparator":"","_EventTimeRangeSeparator":"","_EventOrganizerID":[],"_EventVenueID":[],"_OrganizerEmail":"","_OrganizerPhone":"","_OrganizerWebsite":"","_VenueAddress":"","_VenueCity":"","_VenueCountry":"","_VenueProvince":"","_VenueState":"","_VenueZip":"","_VenuePhone":"","_VenueURL":"","_VenueStateProvince":"","_VenueLat":"","_VenueLng":"","_VenueShowMap":false,"_VenueShowMapLink":false,"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[35,36],"class_list":["post-22354","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-uinkita","tag-uinsu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22354"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22354\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uinsu.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}