Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2017-07-25 | Waktu : 16:50:15
Dialog Kerukunan, Kepemudaan, dan Kebangsaan

Medan, 23 Juli 2017. Rektor UIN SU Prof. Dr. H. Saidurrahman, MA menjadi salah satu narasumber pada Dialog Kerukunan, Kepemudaan dan Kebangsaan dalam rangka pengukuhan Forum Komunikasi Alumni MAN Pematang Siantar di Hotel Horison. Pada Dialog Kebangsaan tersebut Rektor UIN SU menyampaikan bahwa pemuda sebagai Pengawal Kerukunan untuk Bangsa yang Berperadaban.

peran pemuda dalam mengawal kerukunan dalam menjaga keberadaan NKRI. Tajuk ini menjadi penting di tengah arus besar yang ingin menggoyang keutuhan NKRI dengan berbagai modus pada akhir-akhir ini. Persintuhan negara dengan arus globalisasi yang tidak bisa tidak harus diterima berimplikasi pada banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pemuda yang merupakan salah satu komponen bangsa yang sangat penting diharapkan mampu berkontribusi dalam menghadapi tantangan tersebut. Tulisan ini ingin menengahkan peran pemuda dalam konteks sejarah yang dapat dijadikan motivasi dan sikap-sikap yang perlu dikembangkan dalam menghadapi tantangan-tantangan keagamaan dan kebangsaan saat ini.

Peran Pemuda dalam Lintas Sejarah Indonesia
Peranan pemuda dalam menjaga kerukunan dan kebangsaan adalah hal yang tak terbantahkan dalam lintas sejarah Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa berdirinya bangsa dan negara ini hingga pembangunan banyak diperankan dan dipelopori oleh pemuda. Dalam sejarah, peran pemuda telah ada semenjak Indonesia merdeka, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Berikut sejarah peran pemuda dalam membangun bangsa:
1. 1905, berdirinya Serikat Dagang Islam (SDI). Gerakan pemuda dimulai dengan berdirinya Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Oktober 1905 oleh HOS Jokroaminoto yang mana di dalamnya berisikan pemuda-pemuda Islam salah satunya adalah Soekarno.
2. 1908, kebangkitan Nasional tahun 1908, ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang merupakan organisasi priyayi Jawa pada 20 Mei 1908. Pada periode ini, pemuda Indonesia mulai mengadopsi pemikiran-pemikiran barat seperti sosialisme, marxisme, liberalisme serta menerapkan esensi dari kebudayaan Jawa, Islam, dan konsep kedaerahan lainnya sebagai pegangan (ideologi).
3. 1928, yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. ditandai dengan Kongres Pemuda pada bulan Oktober 1928. Peristiwa ini merupakan pernyataan pengakuan atas tiga hal yaitu, satu tanah air; Indonesia, satu bangsa; Indonesia, dan satu Bahasa persatuan; Indonesia.
4. 1945, Proklamasi Kemerdekaan RI, dimana peran pemuda saat penting terutama saat mendesak Soekarno dan Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustuus 1945.
5. 1966, Aksi pemuda dengan tiga tuntutan rakyat (Tritura), dimana kondisi negara sedang krisis.
6. 1998 dengan aksi mahasiswa yang menjatuhkan rezim Presiden Suharto

Sikap-sikap yang perlu dikembangkan

Terdapat beberapa sikap yang penting dilestarikan oleh pemuda dalam membina kerukunan bangsa.
1. Menyadari bahwa perbedaan adalah sunnatulllah, baik berbeda keyakinan, cara pandang, suku bangsa dan sebagainya.
2. Tidak mudah terperangkap menggunakan simbol agama sebagai alat politik untuk menyerang umat yang beragama lain. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman agama yang inklusif (terbuka) bagi pemuda. Pemahaman agama yang bersifat tertutup akan membuat pemuda dapat bersikap kaku dan tidak produktif. Sebab, kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab dapat saja memanfaatkan kepolosan anak-anak muda.
3. Memperbanyak dan memperkaya ilmu pengetahuan berupa kajian tentang hubungan antar-agama dari sudut pandang ajaran agama masing-masing—dalam contoh kasus di sini adalah Islam—dalam berbagai forum-forum kajian seperti forum kajian terbatas (halaqoh), ceramah umum, diskusi umum, dan seminar-seminar. Sebab, tema-tema tentang hubungan antar-agama yang ideal menurut pandangan Islam masih merupakan topik yang jarang dibahas.
4. Memanfaatkan para ustadz atau pembina kalangan muda lainnya untuk turut menyosialisasi tema-tema kerukunan beragama dari sudut pandang ajaran agama yang diyakininya dalam kajian-kajian mereka.
5. Memperbanyak kegiatan sosial yang membuat kohesi sosial menjadi kuat untuk semakin memupuk kohesi sosial di antara mereka. Dalam banyak hal, kegiatan sosial bersama di antara kelompok-kelompok pemuda akan meningkatkan saling pengertian di antara mereka.
6. Pemuda yang peduli dengan lingkungan sosialnya. Pemuda harus peduli dengan kondisi lingkungan sosial, selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun dan tanpa melihat status, agama orang tersebut. Jangan melakukan perlakuan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan.