UINSU

Medan (UINSU)

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan menyelenggarakan Workshop Kurikulum Islamologi dan Kurikulum Cinta pada Senin, 25 Agustus 2025 di Wing Hotel Kualanamu. Acara ini menghadirkan berbagai pemateri lintas iman, di antaranya Dr. Elia Tambunan dari Sekolah Tinggi Teologi Real Batam dan Dr. Sukamto Limbong dari Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematang Siantar.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UINSU Medan, Prof. Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag. selaku ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyempurnaan kurikulum agar lebih inklusif. Ia menyoroti peningkatan jumlah mahasiswa non-Muslim di UINSU, termasuk mahasiswa Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Menurutnya, hal ini merupakan peluang bagi UINSU untuk memperkuat wajahnya sebagai universitas Islam negeri yang terbuka dan menjadi ruang dialog antaragama.

Beliau juga menekankan bahwa Islamologi di UINSU tidak hanya dipelajari sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai ilmu yang dapat diakses oleh mahasiswa lintas agama. “Bagi saudara-saudara kita yang non-Muslim, Islam diajarkan sebagai ilmu, bukan sebagai doktrin,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa konsep kurikulum cinta yang sedang digagas akan menjadi sarana pendidikan karakter yang menumbuhkan sikap toleran, damai, dan penuh kasih di kalangan mahasiswa.

Sementara itu, Rektor UINSU Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag. dalam sambutannya menegaskan pentingnya kurikulum cinta untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi ke depan. Ia menekankan bahwa Islam harus dipahami sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. “Islam adalah agama yang penuh cinta kasih, yang mengajarkan perdamaian, keadilan, dan toleransi,” ujarnya.

Rektor juga menyoroti perlunya pendidikan karakter yang lebih kuat di kampus. Ia mencontohkan solidaritas mahasiswa di kampus lain, di mana mahasiswa dari berbagai agama saling membantu tanpa memandang latar belakang. Hal tersebut menurutnya harus menjadi teladan bagi mahasiswa UINSU agar cinta yang diajarkan bukan hanya dalam teori, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata.

Dalam paparannya, Dr. Elia Tambunan membagikan pengalaman uniknya mendirikan sekolah alam tanpa ruang kelas, listrik, atau buku tulis, di mana anak-anak belajar langsung melalui interaksi dengan alam. Konsep pendidikan ini diharapkan dapat memberi inspirasi dalam pengembangan kurikulum UINSU agar lebih ramah terhadap lingkungan sekaligus membentuk karakter siswa yang gembira dan bebas dari tekanan.

Adapun Dr. Sukamto Limbong menekankan pentingnya moderasi beragama dalam pendidikan. Ia menilai bahwa keterlibatan mahasiswa non-Muslim di kampus Islam seperti UINSU menjadi bukti nyata bahwa pendidikan lintas iman dapat berjalan harmonis. Hal ini, menurutnya, dapat memperkaya pemahaman mahasiswa tentang pluralitas masyarakat Indonesia.

Workshop ini diakhiri dengan penegasan bahwa kurikulum Islamologi dan kurikulum cinta akan segera dirumuskan lebih komprehensif untuk diintegrasikan ke dalam program akademik UINSU. Diharapkan, pada tahun akademik baru 2025/2026, kurikulum ini sudah dapat diterapkan sehingga seluruh mahasiswa—baik Muslim maupun non-Muslim—mendapatkan pengalaman belajar yang inklusif, penuh cinta, serta mencerminkan nilai “rahmatan lil ‘alamin”. (Humas)

Skip to content