UINSU

Medan (UINSU)
Senin, 15 Desember 2025 — Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali melaksanakan apel pagi rutin pada Senin, 15 Desember 2025, di halaman Gedung Biro Rektor Kampus IV Tuntungan UINSU Medan. Apel kali ini dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. Muzakkir, M.Ag., yang bertindak sebagai pembina apel. Turut hadir Kepala Biro, sejumlah dekan dan pejabat lainnya dari Biro dan berbagai fakultas di lingkungan Kampus IV UINSU.

Dalam amanatnya, Prof. Muzakkir mengajak seluruh sivitas akademika untuk mengawali hari dengan doa dan semangat syukur. Beliau mengutip doa Nabi yang memohon tiga hal: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima Allah SWT. “Ilmu yang menjadi cahaya kehidupan, rezeki yang membawa keberkahan, serta amal yang diterima adalah kunci untuk menjadikan aktivitas kita sebagai ibadah,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa kunci kebahagiaan hidup terletak pada dua hal, yakni bersyukur dan bersabar. “Hayatuna bisyukri wa sobri — kehidupan kita tergantung pada rasa syukur dan kesabaran. Ketika diberi nikmat, bersyukurlah. Ketika diuji, bersabarlah,” tutur Prof. Muzakkir mengutip pesan ulama. Dalam konteks ini, beliau mengingatkan agar seluruh pegawai dan dosen UINSU selalu menjadikan kampus sebagai rumah ibadah dan tempat menyebarkan kebaikan, serta senantiasa bekerja dalam kebersamaan.

Selain itu, Prof. Muzakkir menyampaikan kabar gembira mengenai capaian akademik UINSU. Sebanyak sepuluh dosen tengah menerima Surat Keputusan Menteri Agama (KMA) Guru Besar di Jakarta, dan kerja sama dengan dunia industri juga semakin berkembang. Salah satu hasilnya adalah pembangunan gedung Smart Class di Kampus II Pancing yang merupakan kerja sama antara UINSU dan PT Musim Mas, dengan nilai pembangunan mencapai hampir Rp1 miliar.

Menutup amanatnya, Prof. Muzakkir juga mengajak seluruh peserta apel untuk mendoakan masyarakat yang terdampak bencana banjir di berbagai daerah. Ia mengingatkan bahwa setiap musibah bisa menjadi ujian, peringatan, atau hukuman, tergantung bagaimana manusia meresponsnya. “Mari kita hadapi dengan sabar, bersyukur, dan terus memperbaiki diri. Langit yang gelap bukan pertanda murka, melainkan kabar akan turunnya hujan rahmat,” pesannya penuh makna. (Humas)

Skip to content