MEDAN (UINSU) — Prestasi gemilang bertaraf internasional kembali diukir oleh Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan. Lima mahasiswa dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang tergabung dalam Tim Byooners berhasil menyapu bersih seluruh gelar Juara I pada Lomba Video Presentasi Mahasiswa (Student Spotlight Competition) Kategori Bahasa Indonesia pada ajang Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS+) 2026.

Capaian fenomenal tersebut tertuang dalam Keputusan Rektor Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon Nomor 2216 Tahun 2026 tentang Penetapan Pemenang Lomba Video Presentasi Mahasiswa AICIS Tahun 2026 yang ditetapkan di Cirebon pada 30 Oktober 2026.

Srikandi & Ksatria Digital Prodi KPI UINSU Medan

Keberhasilan luar biasa ini diraih berkat dedikasi dan kolaborasi lima mahasiswa berprestasi Prodi KPI UINSU Medan, yaitu:

  1. Nur Hafiz (NIM 0101232053)
  2. Windari Syntia (NIM 0101242121)
  3. Cahaya (NIM 0101242134)
  4. Gheriya Alzahirah (NIM 0101241002)
  5. Nurnisa Dwi Supari Ujung (NIM 0101242143)

Dalam kompetisi tersebut, Tim Byooners memborong posisi pertama di seluruh kategori penilaian sekaligus:

  • Juara I Konten Terbaik
  • Juara I Naskah Terbaik
  • Juara I Suara atau Narasi Terbaik
  • Juara I Sinematografi Terbaik
  • Juara I Penyuntingan Terbaik
  • Juara I Paling Kreatif
  • Juara I Paling Menginspirasi

Esensi Karya & Formula “RUJUK”: Menjawab Tantangan AI

Karya video berdurasi singkat yang mengantarkan Tim Byooners meraih podium tertinggi tersebut bertajuk “Revitalizing Tabayyun in the Age of Artificial Intelligence”.

Di tengah disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), masyarakat dan mahasiswa kini kerap mengandalkan AI untuk mencari jawaban instan hingga menyusun presentasi. Namun, karya ini melontarkan pertanyaan kritis: ketika informasi menyangkut pengetahuan keislaman—seperti ayat Al-Qur’an, hadis, tafsir, hingga fatwa ulama—apakah proses tabayyun dan verifikasi masih berjalan?

Tim Byooners menekankan bahwa jika jawaban instan dari AI dijadikan titik akhir pencarian ilmu, maka tidak hanya proses verifikasi yang hilang, melainkan juga daya pikir kritis dan esensi dari belajar itu sendiri. Sebagai solusi konkret, Tim Byooners menggaungkan formula RUJUK sebagai panduan etika verifikasi di ruang digital:

  1. R — Ragukan: Jangan langsung menelan informasi secara mentah-mentah; catat, pahami, dan diskusikan terlebih dahulu.
  2. U — Utamakan Sumber Primer: Kembalikan rujukan kepada Al-Qur’an, Hadis, kitab-kitab otoritatif, serta literatur ilmiah yang terpercaya.
  3. J — Jelaskan Kembali: Uraikan intisari ilmu yang diperoleh menggunakan pemahaman mendalam dan bahasa sendiri.
  4. U — Utuhkan Informasi: Pastikan kelengkapan materi dan konteks informasi tidak terpotong atau terdistorsi.
  5. K — Konsultasikan kepada Ahli: Rujuk dan konfirmasikan langsung kepada ulama, dosen, maupun pakar untuk persoalan-persoalan yang kompleks.

Apresiasi Rektor UINSU Medan

Rektor UIN Sumatera Utara Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian membanggakan yang diraih para mahasiswa Prodi KPI tersebut.

“Alhamdulillah, keluarga besar UINSU Medan sangat bersyukur dan bangga atas prestasi luar biasa anak-anak kita—Nur Hafiz, Windari Syntia, Cahaya, Gheriya Alzahirah, dan Nurnisa Dwi Supari Ujung. Menyapu bersih seluruh gelar Juara I di ajang AICIS+ 2026 membuktikan bahwa mahasiswa KPI UINSU tidak hanya cakap secara teknis sinematografi dan narasi, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir kritis dalam mengawal etika komunikasi Islam di era kecerdasan buatan.“

“Gagasan merevitalisasi tabayyun melalui formula RUJUK adalah kontribusi pemikiran yang sangat bernilai bagi masyarakat digital saat ini. Prestasi internasional ini kian mempertegas komitmen UINSU Medan dalam melahirkan generasi muda Islam yang cerdas, moderat, dan berdaya saing global. Selamat kepada Tim Byooners dan para dosen pembimbing yang telah mengharumkan nama civitas akademika UINSU,” tutur Prof. Nurhayati.

Sekilas tentang AICIS+ 2026

Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) merupakan ajang konferensi internasional tahunan bergengsi naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ke-25 pada tahun 2026, hajatan ilmiah ini hadir dengan konsep baru bertajuk AICIS+ 2026 di mana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara (official host).

Semangat “+” (Plus) dalam AICIS+ 2026 menandai pilar baru berupa akselerasi integrasi antara studi keislaman (Islamic Studies), sains, dan teknologi digital terkini, mencakup isu etika digital, kecerdasan buatan, ekotheologi, hingga keberlanjutan. Melalui cabang Student Spotlight Competition, ajang ini memberikan ruang bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan untuk menyampaikan riset dan gagasan keislaman secara visual, inovatif, dan persuasif.

Pencapaian luar biasa dari Tim Byooners ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat dan inspirasi bagi seluruh mahasiswa KPI UINSU Medan serta generasi muda Islam lainnya untuk terus berkarya, berpikir kritis, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai etika komunikasi Islam di ruang digital. (Humas)

Skip to content