Medan (UINSU)
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan turut menghadiri acara Peluncuran dan Bedah Buku “Biografi Tokoh Ulama Al-Jam’iyatul Washliyah” yang digelar di Aula Universitas Al-Washliyah (UNIVA) Medan pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA dan Dr. H. Muhammad Nasir, LC, MA selaku penulis buku, serta beberapa pembedah dan moderator dari kalangan akademisi Washliyah.
Buku yang diluncurkan ini menjadi karya monumental karena tidak hanya merekam biografi delapan ulama besar Al-Washliyah seperti Syekh Hasan Maksum, Syekh Mahmud Syihabuddin, dan Syekh Hamdan Abbas, tetapi juga berupaya mentransformasikan nilai-nilai keikhlasan, ketawaduan, serta tradisi keilmuan mereka kepada generasi muda masa kini. Karya ini merupakan buku ke-104 Prof. Hasballah Thaib dan menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah intelektual Washliyah.
Dalam kesempatan tersebut, hadir mewakili Rektor UINSU Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag. yaitu Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UINSU, Prof. Dr. Muzakkir, M.Ag. menyampaikan pandangan reflektifnya mengenai makna kegiatan ini. Ia menuturkan bahwa acara tersebut bukan sekadar peluncuran buku, tetapi juga perwujudan cinta terhadap tradisi keilmuan dan spiritualitas yang telah diwariskan oleh para ulama Washliyah. “Salah satu keunggulan para ulama terdahulu adalah keikhlasan dan kesederhanaan mereka. Mereka bukan hanya ikhlas, tetapi juga tulus,” ujar Prof. Muzakkir dengan nada penuh penghargaan.
Beliau juga mengenang masa kecilnya yang pernah belajar di madrasah Al-Washliyah dan menegaskan pentingnya menjaga tradisi keilmuan klasik yang kuat di tubuh Al-Washliyah. “Kami dulu membaca kitab Al-Jurumiyah di tingkat ibtidaiyah. Itulah tradisi yang harus terus kita bangun—penguasaan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah yang menjadi ciri khas Washliyah,” ucapnya.



Lebih jauh, Prof. Muzakkir menyoroti pentingnya pengembangan tradisi ilmiah yang tidak hanya berhenti pada catatan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran dan karya para ulama karismatik. Ia menilai buku ini menjadi langkah awal untuk mengenalkan kembali khazanah pemikiran Washliyah kepada masyarakat luas dan akademisi di Indonesia. “Kita perlu menghadirkan karya-karya para ulama ini di ruang-ruang akademik, agar generasi muda dapat belajar langsung dari warisan intelektual mereka,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Prof. Muzakkir juga memberikan saran agar UNIVA dan lembaga-lembaga Washliyah lainnya memiliki ruang khusus untuk menyimpan dan memamerkan karya-karya para ulama karismatik tersebut. “Akan sangat baik bila di perpustakaan UNIVA ada ruang khusus yang menyimpan karya para ulama Washliyah, agar mereka tetap hidup melalui karya yang terus dibaca oleh generasi berikutnya,” tuturnya.
Mengutip sastrawan Mesir Ahmad Syauqi, Prof. Muzakkir menyampaikan pesan yang menggugah, “Sebelum engkau meninggal, tinggalkanlah karya yang membuat namamu abadi.” Menurutnya, pesan ini tercermin nyata dalam sosok Prof. Hasballah Thaib yang telah menulis lebih dari seratus buku sepanjang hidupnya. “Menulis adalah amal jariyah yang tak putus. Karya beliau menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berkontribusi,” ujarnya.
Acara yang berlangsung penuh khidmat ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, seperti revitalisasi kaderisasi ulama di UNIVA, digitalisasi karya para tokoh Washliyah, serta penghormatan terhadap nama-nama ulama dengan mengabadikannya sebagai nama gedung di kampus. Rekomendasi tersebut disepakati sebagai langkah konkret memperkuat identitas Washliyah sebagai organisasi yang kokoh dalam tradisi keilmuan dan moralitas.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku ini menegaskan kembali bahwa Al-Washliyah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembentukan karakter dan peradaban Islam di Indonesia. Dengan semangat keilmuan dan keikhlasan para pendahulunya, Washliyah diharapkan terus melahirkan generasi ulama dan intelektual yang berakar pada nilai-nilai luhur Islam. (Humas)







