UINSU

Medan (UINSU)
Terkait beberapa berita di media sosial yang menyatakan lulusan UIN memiliki skill rendah, kurang kompeten sehingga sulit diterima di pasaran kerja, Rektor UINSU Medan Prof. Dr. Nurhayati, M. Ag memberi respon proporsional. Menurutnya segala bentuk kritikan yang dialamatkan ke UIN, secara spesifik harus dibaca dengan kepala dingin dan lapang dada. “Kita tidak pernah menutup mata terhadap segala bentuk kritikan atau masukan yang ditujukan kepada UIN. Setiap kritikan itu tentu saja memiliki signifikansinya tersendiri yang tujuannya untuk perbaikan institusi di masa mendatang, Tegasnya dalam satu Wawancara dengan Tim Humas UINSU Medan.

Kendati demikian, Rektor berharap kritikan yang diajukan semestinya berdasarkan data yang ada bukan sekedar opini atau kesan temporer yang sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ini penting karena yang menjadi sorotan pengkritik adalah lembaga Pendidikan Tinggi yang menjunjung tradisi akademik yang kuat. Kritik yang berbasis data akan lebih mudah direspons dan ditindaklanjuti secara konstruktif.

Data ini penting karena UIN yang sebelumnya berstatus IAIN, dan saat ini telah mengalami perkembangan yang signifikan. Jika dimaksud kurang skill atau kurang bermutu ini dialamatkan ke Prodi yang mana. Jika ditujukan kepada Prodi Agama rasanya tidak memadai dan kurang tepat. Dalam sejarahnya yang Panjang, kontribusi alumni IAIN/UIN dalam bidang Pendidikan Islam, hukum Islam, dakwah dan Ushuluddin rasanya tidak perlu diragukan lagi kendati kesempurnaan tidak pernah wujud. Sulit membantah, model Islam Indonesia saat ini yang moderat-washatiyyah sesungguhnya dibentuk sebagian besarnya oleh alumni IAIN/UIN seluruh Indonesia. Namun, jika ditujukan kepada program studi umum, kritik tersebut menjadi momentum reflektif sekaligus pendorong akselerasi pengembangan, mengingat rata-rata usia program studi tersebut masih relatif muda (berkembang sejak tahun 2010-an). Oleh sebab itu, melalui Kementerian Agama, UIN yang menyelenggarakan program studi umum terus melakukan transformasi berkelanjutan, baik dari sisi fasilitas maupun kualitas sumber daya manusia.

Menurut Prof. Nurhayati, Sebenarnya di perguruan tinggi manapun termasuk di UIN, telah memiliki Lembaga yang bertugas untuk melakukan tracer study. Lembaga inilah yang menghimpun data-data alumni yang isinya berupa data study, berapa lama penyelesaian study, IPK yang diperoleh, masa tunggu sampai alumni  mendapatkan pekerjaan, serta survey yang menelusuri kesesuain kerja dengan kompetensinya. Melalui tracer study inilah nanti diketahui bagaimana serapan pasar terhadap lulusan sebuah perguruan tinggi. Dari sini juga dapat dilacak kemampuan alumni dan kompetensinya dalam bekerja. Untuk yang terakhir ini datanya akan akurat karena merujuk kepada survey tentang kepuasan pengguna (user) atau stakeholder.

Lepas dari itu semua, Rektor menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan. Oleh sebab itu, UIN telah melakukan berbagai Upaya untuk penguatan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) di Tingkat universitas, Unit Penjamin Mutu (UPM) di level Fakultas dan Gugus Kendali Mutu (GKM) di Tingkat Prodi. Monitoring dan evaluasi Pembelajaran serta Audit Mutu Internal (AMI) tidak saja menjadi program penting tetapi telah menjadi tradisi dan budaya di lingkungan UIN. Disamping itu, penguatan kompetensi dosen dan skill mengajar di era Digital juga terus ditingkatkan. Hanya dengan cara ini, mutu lulusan akan terus diperbaiki. (Humas)

Skip to content