UINSU

Medan (UINSU)
Perkembangan media sosial yang semakin pesat menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat dalam memilah dan memahami informasi. Di tengah derasnya arus digital, penyebaran hoaks, disinformasi, serta framing negatif dinilai menjadi persoalan serius yang membutuhkan kesadaran bersama untuk dihadapi secara bijak.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam berbagai kesempatan terus mengajak masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar di media sosial. Ia menekankan pentingnya budaya tabayyun, verifikasi informasi, dan etika dalam bermedia digital sebagai tanggung jawab bersama.

Ajakan tersebut dinilai relevan di tengah maraknya berbagai informasi yang kerap dipotong, dibelokkan konteksnya, hingga menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik digital. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya serta membiasakan prinsip “saring sebelum sharing” dalam kehidupan sehari-hari.

Di bawah kepemimpinan Nasaruddin Umar, Kementerian Agama Republik Indonesia juga memperoleh berbagai apresiasi dan penilaian positif dari sejumlah lembaga survei nasional. Berdasarkan survei INDOSTRATEGI tahun 2025, Kementerian Agama menempati posisi kedua kementerian terbaik di Indonesia. Sementara pada tahun 2026, survei Cyrus Network menempatkan Kementerian Agama sebagai salah satu kementerian dengan tingkat popularitas tertinggi di Indonesia.

Selain itu, Kementerian Agama juga menerima sejumlah penghargaan nasional, di antaranya TOP GPR Award 2025, Popular Government Institutions Award 2025, Badan Publik Terfavorit 2025, TOP GPR Figure Award 2025, hingga penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama pada tahun 2026. Berbagai capaian tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola pemerintahan, komunikasi publik, dan pelayanan keagamaan yang terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, tantangan di era digital juga terus berkembang. Fenomena hoaks dan penyebaran informasi yang tidak utuh sering kali memunculkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memahami informasi secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif di media sosial.

Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Nurhayati, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting dalam membangun kesadaran masyarakat terkait etika dan kecerdasan bermedia sosial.

Menurut Prof. Nurhayati, budaya tabayyun harus terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang bersifat provokatif maupun menyesatkan.

“Di era digital saat ini, masyarakat harus semakin cerdas dalam menerima informasi. Jangan mudah menyimpulkan sebelum melakukan verifikasi. Budaya tabayyun dan saring sebelum sharing sangat penting agar ruang digital kita tetap sehat dan tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi ajakan Menteri Agama RI yang terus mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi publik dan kehati-hatian dalam bermedia sosial. Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan kepemimpinan yang mengedepankan kesejukan, dialog, dan tanggung jawab moral di tengah dinamika ruang digital saat ini.

Lebih lanjut, Prof. Nurhayati menegaskan bahwa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara akan terus mendukung penguatan literasi digital melalui kegiatan akademik, edukasi publik, dan pengabdian kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat membangun masyarakat yang lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Di tengah tantangan era digital yang terus berkembang, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat bersama-sama menjaga ruang publik digital agar tetap sehat, edukatif, dan konstruktif demi memperkuat persatuan dan kehidupan sosial yang harmonis. (Humas)

Skip to content