UINSU

Langkat (UINSU)

Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di Jentera Malay Stabat, Kabupaten Langkat, Rabu (6/5/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Strategi Pembelajaran PAI Adaptif dan Kontekstual di Tengah Tantangan Brain Rot”.

Seminar ini terselenggara atas kolaborasi Kementerian Agama Kabupaten Langkat, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Stabat. Selain Rektor UINSU Medan, turut hadir sebagai narasumber Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, Ilhamsyah Bangun, ST., MT., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Abdul Kadir Simorangkir, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Langkat, H. Ainul Aswad, MA.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag. menyoroti fenomena brain rot yang kini menjadi tantangan serius di era digital. Ia menjelaskan bahwa derasnya arus informasi dan konsumsi konten instan dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis, fokus belajar, hingga kedalaman spiritual peserta didik. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan baru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar tetap relevan dengan karakter generasi digital saat ini.

“Pembelajaran PAI tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu menghadirkan makna, membangun refleksi, dan menanamkan nilai-nilai keislaman secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari peserta didik,” ujar Prof. Nurhayati.

Ia juga menekankan pentingnya strategi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual, seperti mengintegrasikan teknologi secara bijak, menggunakan contoh aktual yang dekat dengan kehidupan siswa, serta mendorong pembelajaran interaktif dan reflektif. Menurutnya, Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadi penyeimbang di tengah krisis fokus dan makna yang muncul akibat konsumsi konten digital yang dangkal.

Selain itu, Prof. Nurhayati turut memaparkan berbagai pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan guru PAI, di antaranya microlearning bernuansa spiritual, storytelling yang relevan dengan kehidupan nyata siswa, active learning, gamifikasi pembelajaran, hingga model hybrid learning yang menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi nyata di lingkungan pendidikan.

Kegiatan seminar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan dialog antara narasumber dan peserta. Para guru PAI yang hadir tampak antusias mengikuti pembahasan mengenai tantangan pendidikan di era digital sekaligus berbagi pengalaman terkait strategi pembelajaran di sekolah masing-masing.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan instansi pendidikan dalam memperkuat kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang adaptif, bermakna, dan mampu menjawab tantangan zaman. (Humas)

Skip to content