Beijing (UINSU)
Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., Rektor UIN Sumatera Utara Medan, bersama sejumlah tokoh agama, akademisi, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh melakukan kunjungan persahabatan ke Xinjiang dan Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pada 10-18 Mei 2026.
Kunjungan tersebut berlangsung atas undangan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok melalui Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan Bapak Huang He dan ketua umum perhimpunan INTI dr Indra Wahidin, yang bertujuan mempererat hubungan persahabatan, memperkuat dialog budaya dan keagamaan, serta memperluas wawasan tentang kehidupan masyarakat Muslim di Tiongkok.
Selain Prof. Nurhayati, dari UIN Sumatera Utara turut hadir Kepala Biro AUPK UINSU Medan, Dr. H. Ibnu Sa’dan. Delegasi juga diikuti unsur Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, di antaranya Ketua MUI Sumut Dr. H. Maratua Simanjuntak, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumut Prof. Dr. Agussani, Wakil Ketua Umum MUI Sumut Prof. Dr. H.M. Jamil, serta Ketua MUI Kota Medan Dr. H. Hasan Matsum. Turut bergabung pula sejumlah tokoh masyarakat serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi dari Padang, Sumatera Barat, dan Provinsi Aceh.
Rombongan berangkat dari Medan menuju Beijing melalui Singapura pada 10 Mei dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nurhayati menilai kunjungan ke Xinjiang memiliki makna penting karena wilayah itu dikenal sebagai salah satu pusat komunitas muslim terbesar di Tiongkok. Menurutnya, lebih dari separuh penduduk Xinjiang diperkirakan beragama Islam dengan mayoritas berasal dari etnis Uyghur yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan peradaban Islam di kawasan Asia Tengah dan Tiongkok bagian barat.
“Xinjiang memperlihatkan karakter peradaban Islam yang sangat khas. Nuansa keislaman tampak kuat dalam kehidupan masyarakat, mulai dari budaya, tradisi, kuliner halal, hingga arsitektur bangunan-bangunan megah yang dihiasi ornamen kaligrafi Arab,” ujar Prof. Nurhayati.

Ia menambahkan, keberadaan masjid-masjid besar menjadi bagian penting dari identitas masyarakat muslim di wilayah tersebut. Salah satunya adalah masjid Erdaoqiao di Urumqi yang dikenal sebagai salah satu masjid terbesar dan tertua di Tiongkok serta menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Uyghur. Identitas Islam di Xinjiang juga terlihat dalam berbagai fasilitas publik. Di Bandara Internasional Urumqi Diwopu misalnya, sejumlah papan informasi dan rambu petunjuk selain menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris juga dilengkapi dengan aksara Arab.
Prof. Nurhayati juga menilai kunjungan tersebut memberi manfaat penting bagi pengembangan perguruan tinggi Islam, khususnya UIN Sumatera Utara Medan, dalam memperluas wawasan internasional, memperkuat jejaring akademik dan budaya, serta memperkaya perspektif tentang peradaban Islam dunia dan masyarakat Muslim multikultural.
Selama berada di Xinjiang, delegasi mengikuti berbagai agenda budaya, kunjungan ke lembaga keagamaan, serta dialog mengenai kehidupan masyarakat Muslim setempat. Delegasi mengunjungi Pasar Internasional Grand Bazaar Urumqi yang menjadi pusat perdagangan dan budaya masyarakat Muslim Xinjiang. Rombongan juga melakukan kunjungan resmi ke Xinjiang Islamic Institute, lembaga pendidikan Islam terkemuka di wilayah tersebut, guna memperoleh gambaran mengenai sejarah, sistem pendidikan, dan perkembangan Islam di Xinjiang selama lebih dari tujuh dekade.
Prof. Nurhayati dengan delegasi lainnya melakukan dialog langsung dengan President of Xinjiang Islamic Institute, Muhatiremu, beserta jajaran pimpinan kampus lainnya. Pertemuan itu membahas perkembangan Xinjiang Islamic Institute sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terbesar di Urumqi serta kontribusinya dalam mendukung kemajuan masyarakat Tiongkok, khususnya dalam penguatan kerukunan, pendidikan keagamaan, dan harmonisasi sosial di tengah masyarakat multietnis.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kashgar, kota bersejarah di Jalur Sutra yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di kawasan Asia Tengah. Di kota ini, delegasi mengunjungi Masjid Id Kah, kawasan kerajinan tangan Xiangfei Garden, serta kawasan perdagangan Kashgar Comprehensive Bonded Zone.
Pada 15 Mei, delegasi dijadwalkan kembali melanjutkan agenda kunjungan di Beijing. Di ibu kota Tiongkok itu, rombongan menghadiri pertunjukan seni budaya di Lao She Teahouse serta mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah seperti Museum of the Communist Party of China, Summer Palace, Kota Terlarang (Forbidden City), dan Tembok Besar Mutianyu.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi jembatan penguatan hubungan persahabatan dan kerja sama di bidang pendidikan, sosial, budaya, dan keagamaan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. (Humas)

