UINSU

Jakarta (UIN SU)
Gagasan Indonesia tentang perdamaian dunia kembali memperoleh panggung internasional melalui peluncuran buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar dalam rangkaian Rukun Festival 2026, yang diselenggarakan pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 18.00 WIB, di The Telkom Hub Telkom Landmark Tower, Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 52, Kuningan Barat, Jakarta. Peluncuran buku ini menjadi salah satu agenda utama festival yang mengusung semangat memperkuat kerukunan, dialog lintas agama, dan diplomasi kemanusiaan sebagai kontribusi Indonesia bagi perdamaian global.

Buku ini merupakan karya kolaboratif 24 akademisi, rektor, guru besar, dan intelektual Indonesia yang mendokumentasikan sekaligus merefleksikan pemikiran, kiprah, dan diplomasi kemanusiaan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama Republik Indonesia. Para penulis berasal dari berbagai perguruan tinggi dan disiplin ilmu, yakni Masnun Tahir, Maimun, Farid F. Saenong, Muhammad Aras Prabowo, Idi Warsah, Abd. Wahid Arsyad, Mujiburrahman, Rosihon Anwar, Agustinus, Abd. Aziz, Hannani, Abdurrohman Kasdi, Wan Jamaluddin Z, Lukman Hakim, Ismail Fahmi Arrauf Nasution, Ridwan, Nurhayati, Darmawati, Ahmad Rajafi, Asef Umar Fakhruddin, Toto Suharto, Zurqoni, dan Badrut Tamam. Mereka berasal dari latar belakang sebagai rektor, guru besar, dosen, pemikir Islam, dan intelektual lintas bidang yang memiliki perhatian terhadap isu agama, perdamaian, dan kemanusiaan global.

Prof. Dr. Nurhayati, Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan, menegaskan, “Kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan fondasi utama bagi terwujudnya perdamaian dunia. Islam progresif mengajarkan bahwa agama harus menjadi sumber kedamaian dan perlindungan bagi seluruh manusia tanpa memandang jenis kelamin, sehingga relasi sosial dibangun di atas cinta, penghormatan, dan saling memahami.”

Prof. Dr. H. Masnun Tahir, Rektor UIN Mataram, menegaskan, “Buku ini merupakan ikhtiar akademik untuk menunjukkan bahwa humanisme religius dapat menjadi fondasi peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan bermartabat.”

Prof. Dr. Idi Warsah menyatakan, “Diplomasi agama adalah jalan strategis untuk membangun kepercayaan antarbangsa melalui nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan universal.”

Prof. Dr. Mujiburrahman menilai, “Pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman merupakan modal penting yang layak ditawarkan kepada dunia sebagai model hidup berdampingan secara damai.” 12/07/2026.

Menurut Prof. Dr. Rosihon Anwar, “Tafsir yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi fondasi bagi lahirnya diplomasi agama yang inklusif dan berkeadaban.”

Sementara itu, Prof. Dr. Agustinus menegaskan, “Dialog lintas iman harus menjadi bahasa bersama untuk membangun masa depan dunia yang lebih harmonis.”

Prof. Dr. Abdurrohman Kasdi mengatakan, “Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dibangun melalui kolaborasi nilai, bukan semata-mata melalui keseimbangan kekuatan politik.”

Prof. Dr. Wan Jamaluddin Z menyampaikan, “Moderasi beragama merupakan kontribusi strategis Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan perdamaian global.”

Prof. Dr. Lukman Hakim menambahkan, “Masjid, kampus, dan ruang publik perlu menjadi pusat lahirnya diplomasi kemanusiaan yang mampu menjawab tantangan zaman.”

Menurut Dr. Ismail Fahmi Arrauf Nasution, “Literasi keagamaan yang inklusif menjadi benteng penting dalam menghadapi polarisasi dan ekstremisme di era digital.”

Prof. Dr. Toto Suharto menyatakan, “Pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab global.”

Sedangkan Prof. Dr. Darmawati menegaskan, “Kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan inti dari diplomasi agama yang mampu memperkuat persaudaraan kemanusiaan.”

Dalam sambutannya di dalam buku tersebut, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa, “Dunia membutuhkan diplomasi hati, diplomasi kemanusiaan, dan diplomasi spiritual yang mampu menyentuh dimensi terdalam kehidupan manusia. Perdamaian yang sejati tidak lahir hanya dari kesepakatan formal, tetapi juga dari kesadaran moral bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan hak yang sama untuk hidup secara damai.”

Peluncuran buku pada Rukun Festival 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan religious diplomacy di tingkat global. Melalui gagasan yang terangkum dalam delapan tema besar mulai dari humanisme religius, tafsir sebagai fondasi diplomasi agama, spiritualitas, moderasi beragama, kesetaraan global, humanisme Islam, dialog lintas iman, hingga diplomasi peradaban buku ini menawarkan paradigma baru bahwa agama dapat menjadi bahasa universal untuk membangun kepercayaan, memperkuat solidaritas kemanusiaan, serta menghadirkan perdamaian yang berkelanjutan. (Humas)

Skip to content