Medan (UINSU)
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali melaksanakan apel pagi di Kampus IV Tuntungan, Senin (10/8/2026). Apel tersebut diikuti oleh pimpinan, sivitas akademika dan tenaga kependidikan UINSU dengan Pembina apel Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A., (Wakil Dekan Bidang Akademik, Kelembagaan dan Pengembangan Fakultas Kesehatan Masyarakat)

Dalam amanatnya, Prof. Hasrat Efendi menyampaikan pentingnya membangun budaya kerja yang kuat melalui empat aspek utama, yaitu karakter, kompetensi, kontribusi, dan komunikasi. Menurutnya, keempat aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif, harmonis, dan berorientasi pada kemajuan institusi.

Karakter sebagai Fondasi Kehidupan dan Pengabdian

Prof. Hasrat Efendi menempatkan karakter sebagai fondasi pertama yang harus dimiliki setiap individu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh menghilangkan nilai-nilai humanis dalam kehidupan maupun lingkungan kerja. Kemajuan institusi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai kemanusiaan, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

“Walaupun zaman terus berubah, kita harus tetap memiliki nilai-nilai humanis,” pesannya.

Karakter yang kuat, lanjutnya, akan tercermin dalam sikap dan perilaku seseorang ketika melaksanakan tugas serta berinteraksi dengan orang lain.

Kompetensi untuk Meningkatkan Profesionalitas

Aspek kedua yang ditekankan adalah kompetensi. Setiap individu di lingkungan UINSU diharapkan terus meningkatkan kapasitas dan kemampuan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Kompetensi menjadi bagian penting dalam mewujudkan profesionalitas sekaligus memastikan setiap pekerjaan dapat dilaksanakan secara efektif dan memberikan pelayanan terbaik bagi institusi dan masyarakat.

“Kompetensi harus terus kita bangun sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing,” ujarnya.

Kontribusi sebagai Wujud Kebermanfaatan

Aspek ketiga Prof. Hasrat Efendi kemudian mengingatkan bahwa keberadaan setiap individu dalam organisasi harus memberikan kontribusi nyata.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas”, yang berarti bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Menurutnya, seseorang akan dikenang bukan semata-mata karena jabatan yang pernah diemban, melainkan karena kontribusi dan manfaat yang telah diberikan.

Ia mencontohkan Jenderal Besar Soedirman yang tetap dikenang dalam sejarah bangsa karena kontribusinya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kontribusi itu penting. Ada atau tidak adanya kita harus memberikan perubahan yang lebih baik. Mari masing-masing kita berkontribusi sesuai dengan job description kita,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan sejumlah fasilitas dan gedung yang menggunakan nama tokoh-tokoh tertentu sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa dan kontribusi mereka. Hal itu menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan seseorang dapat terus dikenang dan memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya.

Komunikasi sebagai Penguat Organisasi

Aspek keempat yang menjadi perhatian adalah komunikasi. Prof. Hasrat Efendi menilai komunikasi memiliki posisi strategis dalam membangun organisasi yang sehat.

Komunikasi vertikal antara pimpinan dan bawahan maupun komunikasi horizontal antarsesama rekan kerja perlu dibangun secara terbuka dan konstruktif. Menurutnya, iklim komunikasi yang baik akan memberikan pengaruh terhadap kenyamanan, kebahagiaan, dan produktivitas kerja.

Ia mengutip pemikiran almarhum Prof. Sawal Gultom, M.Pd., mantan Rektor Universitas Negeri Medan dan pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal pada Kementerian Pendidikan, yang membahas hubungan antara iklim komunikasi, gaya kepemimpinan, kesejahteraan, dan produktivitas kerja.

Menurut Prof. Hasrat Efendi, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh faktor material atau besaran penghasilan. Faktor intrinsik seperti rasa dihargai, rasa memiliki, kekeluargaan, kasih sayang, serta suasana komunikasi yang sehat juga memiliki peranan penting.

“Tidak semua kebahagiaan diukur dengan materi. Ada kebahagiaan yang datang dari hati, dari kesadaran kita, dari rasa dihargai dan rasa memiliki,” ungkapnya.

Ia mengingatkan seluruh peserta apel untuk senantiasa menjaga hati dan membangun kesadaran diri karena kondisi batin turut memengaruhi perspektif, perilaku, serta aktualisasi seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya.

Empat C untuk Membangun Chemistry UINSU

Pada bagian akhir amanatnya, Prof. Hasrat Efendi merangkum keempat aspek tersebut dalam sebuah konsep yang saling berkaitan.

Karakter, kompetensi, kontribusi, dan komunikasi akan melahirkan chemistry yang kuat dalam organisasi.

Menurutnya, chemistry menjadi faktor penting untuk menciptakan suasana kerja yang solid, harmonis, dan produktif. Hubungan yang baik antara pimpinan, wakil pimpinan, kepala biro, dekan, dan seluruh unsur fakultas akan memperkuat sinergi dalam mencapai tujuan institusi.

Ia mengapresiasi upaya pimpinan UINSU dalam membangun chemistry di antara seluruh unsur organisasi.

“Kalau ini terjadi, produktivitas kerja UIN akan meningkat, UIN akan semakin maju dan berkembang, serta kita akan mampu menciptakan sejarah bagi institusi ini,” katanya.

Prof. Hasrat Efendi berharap seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan UINSU dapat menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, terus meningkatkan kompetensi, memberikan kontribusi terbaik, membangun komunikasi yang sehat, serta memperkuat chemistry dalam bekerja.

Dengan fondasi tersebut, UINSU diharapkan semakin solid dalam menghadapi berbagai tantangan dan mampu mewujudkan kemajuan institusi secara berkelanjutan.

Apel pagi ditutup dengan doa dan ajakan untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Fastabiqul khairat, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan.” (Humas)

Skip to content