Medan (UINSU)
Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., menghadiri Breakfast Meeting yang membahas penguatan tata kelola pesantren dan strategi transformasi bangsa bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, Selasa (13/10/2026). Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi pemerintah dan perguruan tinggi keagamaan dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan Islam serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Dalam pembahasannya, Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya pembenahan tata kelola pesantren melalui penguatan sistem pendataan, dukungan pemerintah daerah, pengakuan pendidikan dan legalitas ijazah santri, serta penataan kelembagaan sesuai karakteristik pesantren. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dinilai penting agar kebijakan pengembangan pesantren dapat dilaksanakan secara tepat sasaran.

Penguatan tersebut juga membutuhkan kontribusi perguruan tinggi melalui penelitian dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan nyata pesantren. Pengembangan kajian berbasis data, rekomendasi kebijakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pemberdayaan ekonomi pesantren menjadi sejumlah ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan untuk mendorong lembaga pendidikan Islam semakin mandiri dan berdaya saing.

Sementara itu, Menko PMK Sugiono menyoroti empat peran strategis Kementerian Agama dalam transformasi nasional, yakni menjaga kerukunan dan toleransi beragama, membangun karakter bangsa yang positif dan optimistis, mentransformasi sumber daya manusia melalui pendidikan, serta memperkuat tata kelola pemerintahan. Keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang berintegritas, inklusif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Menko PMK juga menekankan bahwa pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki potensi besar dalam membentuk karakter generasi bangsa. Pengembangan pendidikan perlu memadukan penguatan pemahaman agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu melahirkan generasi yang berakhlak, kompeten, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Kehadiran Rektor UINSU Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., dalam pertemuan tersebut mencerminkan perhatian dan dukungan perguruan tinggi keagamaan terhadap agenda penguatan pendidikan Islam dan kerukunan nasional. UINSU Medan memandang pesantren sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan Indonesia yang berperan dalam menanamkan nilai keislaman, membangun karakter, serta memperkuat kepedulian sosial masyarakat.

Rektor UINSU Medan menyampaikan dukungannya terhadap penguatan tata kelola pesantren dan kolaborasi lintas lembaga. “Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak. UINSU Medan mendukung sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan pesantren untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat kelembagaan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Rektor, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri juga perlu terus memperkuat kontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi akademik yang berkelanjutan diharapkan dapat menghasilkan gagasan dan solusi aplikatif bagi pengembangan pesantren, sekaligus memperluas kesempatan bagi santri untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Selain penguatan pesantren, Rektor menilai kerukunan dan toleransi merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memperkuat persaudaraan, serta membangun lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi nilai keislaman dan kebangsaan. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi insan yang unggul secara akademik sekaligus berkontribusi dalam menjaga persatuan Indonesia.

Melalui partisipasi dalam Breakfast Meeting tersebut, UINSU Medan terus mendukung penguatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pesantren dalam membangun pendidikan Islam yang berkualitas, adaptif, dan berdaya saing. Upaya ini diharapkan turut memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjadikan kerukunan dan nilai-nilai keagamaan sebagai kekuatan dalam mewujudkan transformasi bangsa yang berkelanjutan. (Humas)

Skip to content