Jambi (UIN SU)
Sebagai bentuk implementasi konkret Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan dan Universitas Jambi (UNJA), Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN SU Medan, Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag., hadir menjadi narasumber utama dalam Kuliah Umum bertema “Konsep Cinta Lingkungan Perspektif Teologi (Ekoteologi): Belajar dari Bencana Alam”.
Kegiatan kolaboratif antar-perguruan tinggi tersebut berlangsung khidmat di Ruang Senat Lantai 8 Gedung UNIFAC UNJA Mendalo, Selasa (13/10/2026).
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi UNJA, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., dengan didampingi Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama FKIP UNJA, Dr. Fortunasari, S.S., M.A. Acara ini dihadiri oleh para koordinator program studi serta ketua himpunan mahasiswa (Hima) dari berbagai jurusan di lingkungan UNJA.
Dalam sambutannya, Prof. Revis Asra menyampaikan apresiasi atas sinergi kelembagaan dan kepakaran Prof. Muzakkir. Ia menegaskan bahwa isu pelestarian lingkungan hidup merupakan topik yang sangat krusial bagi dunia pendidikan. Menurutnya, menjaga kelestarian alam bukan sekadar persoalan teknis, regulasi, atau penyediaan anggaran semata, melainkan berpijak pada nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab kemanusiaan.


Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag RI
Pada pemaparan materinya, Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag., yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN SU Medan, menjelaskan bahwa konsep ekoteologi menuntut manusia untuk memahami hubungan terintegrasi antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.
Gagasan ini berfokus pada pilar kebijakan Kementerian Agama RI melalui KMA No. 1503 Tahun 2025 tentang Kurikulum Berbasis Cinta, yang menegaskan Cinta kepada Lingkungan sebagai bagian utuh dari amanah keimanan.
Prof. Muzakkir menyoroti maraknya krisis dan bencana alam yang melanda berbagai kawasan, mulai dari ancaman banjir bandang, kebakaran hutan, hingga persoalan penumpukan sampah dan pencemaran ekosistem. Beliau menegaskan kembali peringatan Allah SWT dalam QS. Al-A’raaf ayat 56 agar manusia tidak berbuat kerusakan di muka bumi.


Empat Pilar Kearifan Sufistik dalam Menjaga Alam
Untuk membangun kearifan terhadap alam, Prof. Muzakkir menawarkan empat pilar kearifan ekoteologi berbasis pendekatan tasawuf:
- Mahabbah (Mencintai Alam Semesta): Menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang timbal balik terhadap alam, sebab kerusakan lingkungan berakar dari hilangnya rasa cinta manusia pada lingkungannya.
- Uzlah / Tadabbur Alam: Mengambil waktu sejenak di alam bebas untuk bertafakur. Aktivitas ini memberikan the flash of mind sebagai wahana penyegaran jiwa sekaligus penyusun strategi penanggulangan kecerobohan masa lalu.
- Zuhud (Menghindari Sifat Tamak): Menahan diri dari eksploitasi alam yang berlebihan demi kesenangan pragmatis yang merugikan kehidupan bersama.
- Ma’rifat (Mengenal dan Bersahabat dengan Alam): Menjadikan akhlak spiritual sebagai fondasi etika lingkungan yang komprehensif, seimbang, dan adil.
Bumi sebagai “Ibu” dan Kiprah Lingkungan UIN SU Medan
Lebih lanjut, Prof. Muzakkir mengibaratkan bumi sebagai “Ibu” yang melahirkan dan menopang kehidupan manusia sejak Nabi Adam AS. Sebagai “Ibu”, bumi harus dikasihi dan dirawat secara bijak, bukan dieksploitasi tanpa etika. Apalagi, seluruh komponen semesta sejatinya terus bertasbih mengagungkan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra ayat 44.
Pada kesempatan ini, Prof. Muzakkir turut memaparkan komitmen UIN SU Medan dalam mengusung visi kampus berwawasan lingkungan melalui Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Sustainable Development Goals (SDGs). UIN SU Medan secara konsisten menerapkan tata kelola Green Metric Campus, memberikan edukasi masyarakat, serta memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah maupun swasta demi mewujudkan kelestarian lingkungan berkelanjutan menuju tahun 2030.
Pelaksanaan kuliah umum kolaboratif ini diharapkan tidak hanya mempererat tali kerja sama akademik dan kelembagaan antara UIN SU Medan dan UNJA, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis dan kepedulian lingkungan berbasis nilai-nilai spiritualitas keimanan bagi seluruh civitas akademika. (Humas)





