Medan (UINSU)
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama. Hal tersebut tercermin dari kehidupan akademik di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UINSU, tempat mahasiswa dari latar belakang agama berbeda dapat belajar dan berinteraksi dalam suasana yang saling menghormati.

Kehadiran mahasiswa non-Muslim di FKM UINSU menjadi gambaran bahwa perguruan tinggi Islam dapat menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi keberagaman. Di lingkungan kampus, mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi akademik, membangun persahabatan, serta mempersiapkan diri menjadi lulusan yang berkontribusi bagi masyarakat.

Wakil Dekan I FKM UINSU, Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A., sebagaimana diberitakan Mimbar Umum, menyampaikan bahwa mahasiswa non-Muslim merasa nyaman menjalani perkuliahan dan bergaul dengan mahasiswa Muslim. Ia juga menjelaskan bahwa interaksi antarmahasiswa berlangsung dengan baik tanpa perundungan maupun perlakuan berbeda berdasarkan agama.

Kenyamanan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun iklim akademik yang sehat. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran sosial yang menanamkan sikap saling menghargai, kepedulian, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Jumlah Mahasiswa Non-Muslim Meningkat

Gambaran positif tersebut turut terlihat dari perkembangan jumlah mahasiswa non-Muslim di FKM UINSU. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pemberitaan Mimbar Umum, jumlah mahasiswa non-Muslim meningkat dari 12 orang pada tahun akademik 2023/2024 menjadi 26 orang pada tahun akademik 2024/2025, kemudian mencapai 36 orang pada 2026.

Menurut Hasrat Efendi, peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan pengalaman positif mahasiswa yang telah lebih dahulu menempuh pendidikan di FKM UINSU. Pengalaman itu dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong calon mahasiswa lain untuk memilih fakultas tersebut sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Perkembangan ini menjadi gambaran yang menarik tentang pentingnya membangun kepercayaan melalui pengalaman nyata di lingkungan perguruan tinggi. Suasana belajar yang aman, hubungan sosial yang harmonis, serta kesempatan mengembangkan diri secara setara merupakan bagian dari pengalaman pendidikan yang bermakna bagi mahasiswa.

Rektor Dukung Penguatan Moderasi Beragama

Rektor UINSU Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., secara umum menempatkan moderasi beragama, toleransi, dan kerukunan sebagai nilai penting dalam kehidupan akademik. Sejalan dengan semangat tersebut, UINSU terus mendorong sivitas akademika untuk menjadikan keberagaman sebagai ruang membangun persaudaraan, memperluas wawasan, dan memperkuat kebersamaan.

Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan membangun sikap yang adil, seimbang, dan menghormati hak setiap orang dalam menjalankan keyakinannya. Nilai ini penting untuk diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk dalam proses pembelajaran, pergaulan mahasiswa, dan berbagai aktivitas kemahasiswaan.

Lingkungan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai tersebut. Melalui perjumpaan dan kerja sama antarmahasiswa dengan latar belakang yang beragam, kampus dapat membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sikap terbuka, berintegritas, dan mampu hidup berdampingan secara damai.

Membangun Kampus yang Ramah dan Menghargai Perbedaan

Pengalaman di FKM UINSU menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh lingkungan yang mendukung setiap mahasiswa untuk belajar dan berkembang. Sikap saling menghormati, kesempatan yang setara, serta penolakan terhadap diskriminasi merupakan unsur penting dalam mewujudkan kehidupan kampus yang sehat dan produktif.

UINSU Medan diharapkan terus menjadi ruang pendidikan yang menumbuhkan kecerdasan, akhlak, dan semangat kebangsaan. Dengan mengamalkan moderasi beragama dalam kehidupan akademik, sivitas akademika dapat berkontribusi dalam merawat kerukunan sekaligus memperkuat persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Keberagaman di kampus bukanlah penghalang untuk maju bersama. Sebaliknya, keberagaman merupakan kesempatan untuk saling belajar, memperluas perspektif, dan membangun masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. (Humas)

Skip to content