UINSU

Prof. Dr. Salamuddin, M.A.
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sumatera Utara Medan

Hijrah Nabi bukan sekadar perpindahan fisik untuk menghindari angkara murka kaum kafir Quraisy. Di baliknya terkumpul bongkah hikmah dan irisan strategi yang menakjubkan. Ia adalah pelajaran hidup bagi siapa saja yang mau merenung dan berpikir.

Manusia adalah makhluk politik. Tidak ada tujuan besar yang tercapai tanpa siasat dan strategi. Nabi, sebagai utusan bagi seluruh alam dan pemikul amanah kekhalifahan, adalah ahli strategi paling ulung. Tanpa kecerdasan politik dan manajerial, risalah tidak akan tegak dan dakwah pasti gagal.

Peristiwa hijrah adalah mahakarya strategi. Ia berjalan mulus, mengundang campur tangan Tuhan, sekaligus menghancurkan makar musuh.

Abu Jahal dan kroninya menyusun rencana paling brutal. Mengutus pembunuh terbaik dari setiap kabilah Mekah untuk menghabisi Nabi di malam Jumat sebelum hijrah. Namun makar itu runtuh. Nabi selamat bukan karena kebetulan, melainkan karena strategi yang lebih jitu dan bernas. Strategi itu pantas mendapat pertolongan Allah.

Inilah irisan menarik yang harus dipahami setiap pejuang, baik sebagai individu, keluarga, umat, maupun warga negara. Sukses perjuangan ditentukan oleh kecerdasan membaca medan, bukan sekadar semangat.

Bocornya rencana pembunuhan menunjukkan peran spionase dan intelijen yang menentukan. Pejuang tangguh tidak cukup bersujud panjang, menengadah ke langit, dan memutar tasbih tanpa henti. Ia wajib mengerahkan ikhtiar maksimal untuk mengamankan jalan juang. Itu berarti membangun jaringan informasi yang akurat, menempatkan mata-mata terpercaya dan memantau gerak lawan sebelum langkah diambil. Strategi perang modern yang bertumpu pada intelijen canggih sejatinya telah dipraktikkan Nabi jauh sebelum zaman teknologi.

Penempatan Ali bin Abi Thalib yang berusia 23 tahun untuk tidur di peraduan Nabi bukan keputusan emosional. Ia adalah kalkulasi matang. Risiko leher terpenggal dan kematian tidak akan diambil tanpa visi yang lurus dan keyakinan yang kokoh. Ali, jawara fisik terbaik Jazirah Arab yang sanggup mencabut pintu benteng Khaibar, adalah tameng hidup yang tepat untuk menghadapi lebih dari sepuluh mesin pembunuh utusan Abu Jahal.

Drama lolosnya Nabi dari kepungan lalu bersembunyi bersama Abu Bakar di Gua Tsaur adalah pelajaran lain. Al-Qur’an menyebut para pengepung tidak melihat Nabi karena adanya “sadda”, tabir penghalang. Ini isyarat strategis, seorang pejuang harus menguasai seni pengalihan isu dan penutupan wacana. Mampu membuat musuh kehilangan jejak, buta arah dan gagal membaca langkah berikutnya. Tanpa kemampuan menutup celah informasi, perjuangan akan hancur sebelum bertumbuh.

Hijrah juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan sendiri. Nabi memilih tim dengan presisi bedah. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat setia dan loyal tanpa cela. Kesetiaannya tak tertandingi, hingga lebih mencintai keselamatan Nabi dibanding nyawanya sendiri.

Selama tiga hari di Gua Tsaur, tim profesional bekerja senyap. Asma binti Abu Bakar menyiapkan logistik dan makanan, menegaskan bahwa peran perempuan selalu signifikan dalam setiap kemenangan besar.

Abdullah bin Abu Bakar menjalankan misi intelijen, memantau pergerakan pasukan musuh setiap saat agar Nabi dan ayahnya aman. Amir bin Fuhairah bertugas menghapus jejak perjalanan, memastikan jejak kaki dan aroma kambing tidak terbaca musuh.

Di era digital hari ini, pelajaran Amir bin Fuhairah menjadi lebih relevan. Jejak digital dan non-digital yang negatif telah lebih dulu menggugurkan banyak pejuang, bahkan sebelum mereka masuk medan laga. Menghapus jejak bukan berarti pengecut, melainkan strategi agar perjuangan tidak mati di tengah jalan.

Ketika semua jalan resmi menuju Madinah telah dikepung, Nabi tidak memaksakan diri lewat jalur biasa. Itu bunuh diri. Di sinilah tampak kepiawaian beliau menunjuk Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan non-Muslim yang hafal jalur alternatif yang tak terduga musuh.

Keputusan ini bukan hanya soal kecerdikan, tetapi juga spirit toleransi yang jernih. Nabi mengajarkan, musuh sejati umat Islam bukan non-Muslim, melainkan keangkuhan, kepongahan dan kezaliman. Siapa pun yang menolak ketidakadilan akan berdiri di barisan kebenaran, apa pun agamanya. Abdullah bin Uraiqith membuktikannya dengan memilih berjuang bersama Nabi.

Menyambut tahun baru, setiap Muslim semestinya melakukan dua hijrah sekaligus. Pertama, hijrah personal dari yang buruk menuju yang baik. Kedua, hijrah metodologis, belajar dari Nabi bahwa setiap misi, program dan cita-cita besar wajib disusun di atas strategi yang cerdas, tim yang tepat, intelijen yang akurat dan keberanian mengambil jalur tak terduga.

Hijrah Nabi adalah potret strategi yang utuh. Ia memadukan iman, ikhtiar, kecerdasan dan manajemen risiko. Tanpa itu, dakwah hanya jadi retorika. Dengan itu, peradaban bisa dibangun.

Fa’tabirū….

Skip to content