Langkah nyata penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diperkokoh melalui perpanjangan kemitraan strategis dengan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Banda Aceh (UINSU)
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali mengukir prestasi gemilang sekaligus memperluas kepakan sayap akademiknya di kancah nasional. Melalui serangkaian agenda strategis yang komprehensif, delegasi UINSU Medan yang dipimpin oleh Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag., merajut sinergi besar di Tanah Serambi Mekkah, Banda Aceh. Rangkaian kegiatan yang berlangsung maraton sejak Rabu hingga Sabtu (10–13 Juni 2026) ini mengintegrasikan seluruh aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari penandatanganan kerja sama institusional, diseminasi riset tingkat doktoral, kuliah umum, hingga safari pengabdian masyarakat dan silaturahmi erat bersama tokoh-tokoh penting serta ulama besar Aceh.
Perpanjangan MoU dan MoA: Langkah Strategis Hilirisasi Riset dan Kebijakan Publik
Awal dari momentum bersejarah ini ditandai dengan penandatanganan perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara UINSU Medan dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang berlangsung khidmat di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, Kamis (11/6/2026). Dalam kesempatan ini, Rektor UINSU Medan, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., diwakili secara resmi oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag., untuk menandatangani kesepakatan bersama Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., dengan disaksikan langsung oleh Kepala BPSDM Aceh, Marthunis, ST, DEA.
Kerja sama kelembagaan ini tidak berhenti di atas kertas, melainkan langsung ditindaklanjuti secara konkret melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Memorandum of Agreement (MoA). Kerja sama taktis tersebut melibatkan Pascasarjana UIN Ar-Raniry dengan dua fakultas unggulan dari UINSU Medan, yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang dipimpin oleh Dekan Prof. Hasan Sazali, MA., serta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang dipimpin oleh Dekan Prof. Tien Rafida, M.Hum.
Prof. Muzakkir menegaskan bahwa esensi dari kerja sama ini adalah implementasi nyata yang berdampak langsung bagi institusi dan masyarakat luas. “MoU tanpa realisasi seperti langit tanpa bintang. Karena itu, setiap kerja sama yang kita bangun harus segera diikuti oleh kegiatan akademik yang konkret, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Prof. Muzakkir secara filosofis saat memberikan sambutan.



Membedah Isu Regional Lewat Diseminasi Riset “Aceh Kontemporer”
Masih di hari yang sama, atmosfer akademik semakin kental dengan digelarnya forum ilmiah bertajuk Diseminasi Riset “Aceh Kontemporer”. Acara kolaborasi antara FDK UINSU Medan, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan Pemerintah Provinsi Aceh ini mengangkat tema besar “Transformasi Komunikasi Publik, Pembangunan, Media, dan Dakwah dalam Penguatan Peran Pemerintah dan Masyarakat untuk Aceh Berkemajuan yang Islami, Bermartabat dan Berkelanjutan”. Forum ini menjadi panggung bagi para mahasiswa Program Studi S3 Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FDK UINSU Medan untuk mempresentasikan hasil riset disertasi mereka yang sangat kontekstual dengan dinamika sosial keagamaan di Aceh.
Sejumlah doktor baru dan kandidat doktor dari UINSU Medan memukau para hadirin dengan hasil kajian mereka yang tajam. Di antaranya adalah Dr. Fitri Melya Sari yang membedah “Dinamika Eksistensi ‘Teungku Inong’ Pada Ruang Publik di Aceh”, Dr. Azman mengenai “Konstruksi Branding Citra Syariat Islam di Aceh”, Dr. Heri Maulana terkait sistem komunikasi Wilayatul Hisbah, serta Dr. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd. yang memaparkan kajian mendalam mengenai strategi komunikasi penguatan syariat Islam di lingkungan kampus. Kehadiran riset-riset ini dipuji langsung oleh Kepala BPSDM Aceh, Marthunis, yang menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mengolah hasil penelitian akademisi UINSU menjadi rekomendasi kebijakan aplikatif melalui Laboratorium Inovasi Kebijakan Aceh yang sedang mereka kembangkan.



Kiprah Akademik di Kuliah Umum: Ekoteologi Sufistik Hingga Pengembangan SDM
Kiprah intelektual pimpinan UINSU Medan di Banda Aceh semakin dipertegas dengan penugasan Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag. sebagai pemateri dalam dua kuliah umum di tempat yang berbeda. Kuliah umum pertama dilaksanakan pada Kamis siang (11/6/2026) di Aula Teater LP2M Lantai 1 UIN Ar-Raniry. Mengangkat tema “Membangun Kearifan Terhadap Alam (Ekoteologi Dalam Perspektif Sufistik)”, kuliah umum ini dimoderatori oleh dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Khairal Fazal, S.Th.I., M.Ag., serta dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Prof. Dr. Salman Abdul Muthalib, Lc., M.Ag., dan Para Wakil Dekannya.
Keesokan harinya, Jumat pagi (12/6/2026), Prof. Muzakkir kembali menyampaikan kuliah umum kedua di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Di hadapan para dosen dan mahasiswa pascasarjana, Guru Besar UINSU ini membawakan materi bertema “Peran Tasawuf Dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia”. Kehadiran Prof. Muzakkir disambut hangat oleh Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani, S.Ag., M.A., Ph.D., yang menilai bahwa pemikiran tasawuf yang disampaikan sangat relevan dalam membentuk karakter SDM yang berintegritas tinggi di era modern.




Mengakar ke Masyarakat: Safari Dakwah dan Pengabdian di Masjid-Masjid Ikonik
Selain beraktivitas di dalam ruang-ruang akademik kampus, delegasi UINSU Medan juga menunjukkan komitmen tinggi pada pilar pengabdian masyarakat dengan menyapa langsung warga Kota Banda Aceh melalui safari dakwah. Rangkaian pengabdian berbasis keislaman ini dimulai sejak Rabu malam (10/6/2026) melalui Kajian Spesial Rabu Malam di Masjid Oman Al-Makmur, Gampong Bandar Baru, di mana Prof. Muzakkir menyampaikan kajian-kajian sufistik dengan penekanan dimensi esotoris bertajuk “Menjadikan Waktu Lebih Bermakna”.
Keesokan paginya, Kamis subuh (11/6/2026), Prof. Muzakkir didaulat menjadi pemateri dalam agenda bergengsi Halaqah Shubuh (Spesial Pengajian Shubuh Kamis) di masjid kebanggaan masyarakat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, yang disiarkan secara langsung melalui streaming Masjid Raya TV. Tidak berhenti di situ, safari dakwah berlanjut pada Kamis malam bakda Maghrib di Masjid Babut Taqwa Utama Jeulingke POLDA Aceh, serta puncaknya pada hari Jumat (12/6/2026), ketika Prof. Muzakkir bertindak sebagai Khatib Jumat di Masjid Al Jihad Jeulingke, Banda Aceh.



Puncak Gerakan “Shuling” dan Rajutan Silaturahmi Bersama Ulama serta Tokoh Aceh
Puncak dari seluruh rangkaian pengabdian masyarakat dan jalinan silaturahmi di Aceh ditutup dengan sangat indah pada Sabtu subuh (13/6/2026) melalui kegiatan Shuling (Shubuh Keliling) yang dipusatkan di Masjid Ar Rahman, Merduati, Kota Banda Aceh. Kegiatan Shuling yang digagas atas kolaborasi erat Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA) bersama Kemenag Kota Banda Aceh ini dikoordinatori oleh Tgk. H. Adnan Ali dan Dr. H. Akhyar M. Ali, MA., dengan menghadirkan Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag. sebagai pemateri utama.
Acara ini terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, birokrat, dan ulama papan atas Aceh. Tampak hadir di barisan jamaah di antaranya Tokoh Masyarakat Aceh Said Salim Alaydrus, Said Mulyadi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh Drs. H. Azhari, M.Si., serta dua akademisi dan ulama terkemuka dari UIN Ar-Raniry, yaitu Prof. Dr. Yasir Yusuf, MA. dan Prof. Dr. H. Muhibbuththabary, M.Ag.



Istimewanya lagi, program Shuling ini juga diinisiasi dan dikawal langsung oleh Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UINSU Medan, Dr. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd., yang bertindak sebagai salah satu tokoh penggerak DKMA, didampingi oleh H. Salman Arifin, S.Pd., M.Ag. Kehadiran jajaran pimpinan dan ulama ini dimanfaatkan oleh Prof. Muzakkir dan delegasi UINSU untuk saling bertukar pikiran, memperkuat ukhuwah, serta mendiskusikan kolaborasi lanjutan demi kemaslahatan umat dan penguatan ekonomi syariah di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
Melalui keberhasilan rangkaian program yang masif dan menyentuh berbagai lini ini, UINSU Medan membuktikan diri bukan sekadar menara gading keilmuan, melainkan institusi pendidikan tinggi Islam yang dinamis, adaptif, serta mampu memberikan sumbangsih nyata yang melintasi batas-batas provinsi demi mewujudkan masyarakat yang berkemajuan dan bermartabat. (Humas)






